“Rasulullah mengajarkan bahwa memuliakan anak yatim adalah jalan menuju keberkahan hidup. Orang yang peduli kepada anak yatim akan mendapatkan kedekatan dengan Nabi di surga,” kata Zumrowi di hadapan para jamaah.
Ia menekankan bahwa santunan bukan sekadar bantuan materi, tetapi bentuk kasih sayang sosial yang harus terus dijaga.
“Memberi santunan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan mereka merasakan kasih sayang dari masyarakat. Mereka harus tahu bahwa mereka memiliki keluarga besar di sekeliling mereka,” ujarnya.
Di hadapan anak-anak yatim yang duduk di barisan depan, Zumrowi kemudian menyampaikan pesan yang lebih dalam sebuah motivasi agar mereka tidak kehilangan harapan.
“Anak-anakku, jangan pernah merasa kecil hati karena keadaan. Banyak orang besar lahir dari kehidupan yang penuh ujian. Tetaplah belajar, tetap berdoa, dan tetap punya mimpi besar,” katanya.
Suasana masjid sejenak menjadi hening. Anak-anak yang mendengar pesan itu menatap ke arah mimbar dengan wajah serius.
Zumrowi melanjutkan bahwa masa depan seseorang tidak ditentukan oleh keadaan masa lalu, tetapi oleh semangat dan ketekunan dalam menjalani hidup.
“Siapa tahu di antara kalian nanti ada yang menjadi ulama, guru, pemimpin, atau orang-orang besar yang membawa kebaikan bagi masyarakat,” ucapnya.
Pesan itu seperti mengalir perlahan di antara jamaah yang hadir. Bagi masyarakat Tegal Rejo, sosok Sarbudiono dan Zumrowi Achyar bukan sekadar pengurus masjid dan penceramah agama.
Keduanya menjadi simbol bagaimana masjid dapat berperan sebagai pusat gerakan sosial, tempat nilai kemanusiaan dipelihara dan solidaritas masyarakat diperkuat.
Menjelang senja, langit Mentok perlahan berubah warna. Jamaah mulai bersiap menyambut azan Magrib.
Di sudut masjid, anak-anak yatim itu duduk bersama menikmati hidangan berbuka yang sederhana. Di antara senyum kecil dan percakapan hangat, mereka merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar santunan yaitu rasa diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Bagi Sarbudiono, inilah makna Ramadhan yang sesungguhnya.
“Kita ingin Masjid Al-Hidayah menjadi tempat tumbuhnya kepedulian. Tempat di mana masyarakat belajar berbagi dan saling menguatkan,” katanya.
Ia berharap kegiatan santunan ini terus berlanjut dan bahkan berkembang di masa depan.
“Semoga semakin banyak anak yatim yang bisa kita bantu, semakin banyak guru ngaji dan guru madrasah yang mendapat perhatian, dan semakin kuat pula rasa kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ketika azan Magrib akhirnya berkumandang dari menara masjid, suara doa dan syukur pun mengalun pelan.
Di Masjid Al-Hidayah Tegal Rejo, Ramadhan sekali lagi mengajarkan satu pelajaran sederhana namun mendalam bahwa kepedulian manusia kepada sesamanya adalah cahaya yang membuat kehidupan terasa lebih hangat. (b5)












