Bangka BaratEdukasiLokalNewsPemerintahan

HUT ORARI ke-24, Sekda Bangka Barat Ingatkan Pentingnya Radio Amatir di Tengah Ancaman Bencana dan Krisis Komunikasi

×

HUT ORARI ke-24, Sekda Bangka Barat Ingatkan Pentingnya Radio Amatir di Tengah Ancaman Bencana dan Krisis Komunikasi

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Di era ketika hampir seluruh aktivitas komunikasi bergantung pada telepon pintar dan jaringan internet, keberadaan radio amatir mungkin terlihat sebagai teknologi yang mulai ditinggalkan zaman. Namun, di balik kesederhanaannya, radio amatir justru masih menjadi salah satu perangkat komunikasi paling andal ketika bencana melumpuhkan jaringan modern.

Pesan itu menjadi benang merah dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Daerah Kepulauan Bangka Belitung ke-24 yang digelar di Pantai Batu Rakit, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Sabtu (13/6/2026) malam.

Penjabat Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abi Mayu, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa ORARI masih memiliki posisi strategis dalam mendukung keselamatan masyarakat, terutama saat menghadapi kondisi darurat dan bencana.

Menurut Abi Mayu, perkembangan teknologi komunikasi tidak boleh membuat masyarakat melupakan keberadaan radio amatir yang selama puluhan tahun telah menjadi salah satu sarana komunikasi paling efektif ketika sistem komunikasi konvensional tidak lagi berfungsi.

“Ketika terjadi bencana, sering kali jaringan telepon seluler tidak dapat digunakan. Dalam kondisi seperti itu, radio amatir menjadi sarana komunikasi yang sangat penting. ORARI telah membuktikan perannya dalam membantu masyarakat, termasuk saat pencarian nelayan yang hilang di laut maupun dalam situasi kedaruratan lainnya,” kata Abi Mayu.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Gempa bumi, tsunami, banjir, puting beliung, hingga kebakaran hutan kerap menyebabkan terganggunya jaringan telekomunikasi dalam waktu yang tidak singkat.

Dalam berbagai peristiwa kebencanaan, jaringan radio amatir sering menjadi alternatif komunikasi pertama yang mampu menghubungkan lokasi terdampak dengan pusat koordinasi bantuan.

Peran radio amatir dalam penanganan bencana bukanlah cerita baru.

Saat gempa bumi dan tsunami melanda Aceh pada 2004, banyak infrastruktur komunikasi rusak total. Di tengah keterbatasan tersebut, operator radio amatir menjadi salah satu pihak yang membantu menyampaikan informasi awal mengenai kondisi lapangan kepada pemerintah dan lembaga kemanusiaan.

Peran serupa juga terlihat dalam berbagai bencana lain seperti gempa Yogyakarta tahun 2006, erupsi Gunung Merapi, gempa dan tsunami Palu tahun 2018, hingga sejumlah bencana banjir dan tanah longsor di berbagai daerah.

Keunggulan radio amatir terletak pada kemampuannya untuk beroperasi secara mandiri. Perangkat radio dapat tetap digunakan meskipun listrik padam karena dapat ditenagai oleh aki, baterai, maupun generator portabel.

Dalam kondisi darurat, kecepatan penyampaian informasi menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan korban. Karena itu, keberadaan jaringan radio amatir masih dianggap relevan bahkan di tengah kemajuan teknologi digital saat ini.

Meski memiliki manfaat besar, Abi Mayu mengakui bahwa ORARI saat ini menghadapi tantangan regenerasi anggota.

Ia menilai sebagian besar generasi muda belum memahami fungsi strategis radio amatir karena tumbuh dalam lingkungan yang sudah terbiasa dengan internet dan media sosial.

Padahal, menurutnya, ORARI bukan sekadar komunitas komunikasi, melainkan wadah pengabdian sosial yang memiliki peran nyata dalam membantu masyarakat.

“Saya berharap ke depan semakin banyak anak muda yang tertarik mengenal dan bergabung dengan ORARI. Organisasi ini bukan hanya tentang hobi komunikasi, tetapi juga tentang pengabdian, kemanusiaan, kebencanaan, dan menjaga kedaulatan bangsa,” ujarnya.

Bagi Abi Mayu, regenerasi menjadi kunci agar ORARI tetap mampu menjawab kebutuhan zaman. Keterlibatan anak muda juga penting untuk mendorong lahirnya inovasi dan adaptasi teknologi tanpa meninggalkan fungsi utama radio amatir sebagai sarana komunikasi darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!