Penulis: Belva Al Akhab
BANGKA, Berita5.co.id — Malam mulai turun perlahan di Sungailiat. Di sebuah rumah sederhana yang dipenuhi deretan akuarium bercahaya, suara aerator berdengung seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti. Air bergerak tenang. Lampu-lampu kecil memantulkan warna merah menyala, biru elektrik, hingga kilau mutiara di tubuh puluhan ikan Louhan muda yang berenang perlahan di balik kaca.
Di tempat itulah, Harun Ega Nugraha menaruh sebuah mimpi besar.
Bukan sekadar tentang ikan hias.
Tetapi tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di Pulau Bangka mencoba menghidupkan kembali “demam Louhan” yang pernah mengguncang Indonesia pada awal tahun 2000-an.
Dulu, Louhan bukan sekadar ikan.
Ia sebagai simbol gengsi, keberuntungan, prestise, bahkan identitas sosial. Akuarium-akurium di rumah warga menjadi panggung kecil bagi ikan berkepala jenong besar dengan warna menyala yang dipercaya membawa hoki. Kontes digelar di mana-mana. Harga seekor Louhan unggulan bisa menembus puluhan juta rupiah.
Indonesia pernah benar-benar jatuh cinta pada ikan ini.
Namun waktu berjalan.
Demam itu perlahan meredup. Banyak breeder berhenti. Komunitas bubar. Pasar ikan Louhan kehilangan pamornya digerus tren baru dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Tetapi di Sungailiat, Bangka, api itu ternyata belum sepenuhnya padam.
Api itu masih hidup di tangan orang-orang seperti Harun.
“Bagi kami, Louhan bukan cuma soal ikan mahal atau lomba. Ada rasa cinta, kesabaran, dan kebanggaan ketika melihat ikan itu tumbuh,” katanya pelan sambil menatap salah satu akuarium.
Tangannya menunjuk seekor burayak kecil dengan warna merah yang mulai muncul di bagian kepala. Jenongnya belum besar. Tubuhnya masih mungil. Namun bagi seorang progressor, di situlah letak harapan.
Harapan tentang seekor ikan yang suatu hari bisa menjadi kebanggaan.
Harun selaku breeder sekaligus Ketua Sungailiat Flowerhorn Community (SFC), sebuah komunitas penghobi Louhan yang kini mencoba menjadi salah satu motor kebangkitan dunia perlouhanan Indonesia.
Melalui ajang nasional bertajuk SFC Progress Competition Session 7 Open Indo, komunitas itu mengundang para penghobi dari berbagai daerah di Indonesia untuk kembali merawat, membesarkan, dan mencintai Louhan.
Kompetisi yang berlangsung sejak 24 Mei hingga 20 Juli 2026 itu bukan lomba biasa.
Yang diperlombakan bukan sekadar ikan paling cantik.
Tetapi proses pertumbuhan seekor kehidupan kecil.
Para peserta mengikutsertakan burayak Louhan berukuran 3 hingga 5 sentimeter untuk dirawat selama dua bulan penuh. Dalam dunia penghobi, kompetisi seperti ini dikenal dengan istilah lomprog atau lomba progress.
Di situlah emosi para penghobi benar-benar diuji.
Setiap hari mereka memantau perubahan warna ikan, perkembangan jenong, bentuk tubuh, fintage, marking, hingga susunan mutiara di tubuh Louhan.
Kesalahan kecil dalam perawatan bisa membuat progres ikan turun drastis.
Karena itu, lomba ini bukan hanya tentang keindahan, tetapi tentang ketelatenan manusia merawat kehidupan.
“Kalau warna mulai naik, jenong mulai jadi, itu ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti melihat anak tumbuh besar,” ujar Harun.
Di tengah kompetisi tersebut, satu nama mulai ramai diperbincangkan para penghobi nasional dengan nama “Haga Series”.












