Babel hari iniBangka BaratBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNewsPemerintahan

Harga Gelap Menghancurkan Tata Kelola Negara: Tempilang Kini Hidup dalam Hukum Bayangan

105
×

Harga Gelap Menghancurkan Tata Kelola Negara: Tempilang Kini Hidup dalam Hukum Bayangan

Sebarkan artikel ini

TEMPILANG, Berita5.co.id— Di pantai ini, Jum’at (07/11/2024), negara sedang kalah perang bukan karena senjata, bukan karena sabotase asing, tetapi karena sesuatu yang sangat sederhana: harga pasaran ilegal yang lebih tinggi daripada harga resmi negara.

Itu saja sudah cukup menjelaskan mengapa ribuan kilogram timah laut mengalir keluar dari Tempilang lewat jalur bayangan. Itu saja sudah cukup menjelaskan mengapa nelayan dan penambang di sini perlahan tidak lagi percaya pada negara. Itu saja sudah cukup untuk menjelaskan mengapa hukum terasa seperti hiasan, bukan fondasi.

Ini bukan tuduhan sembarangan. Ini bukan sekadar rumor pantai.
Ini fakta lapangan.

Data Trasberita.com mencatat:

270 kilogram timah diamankan Polsek Tempilang di Pantai Selepuk Indah

524 kilogram digagalkan nelayan bersama Satgasus dari IUP DU-1545

Itu belum termasuk yang digambarkan Penababel.com: hampir satu ton timah pernah hampir lolos melalui jalur darat di Tempilang.

Apa artinya? Bahwa yang tertangkap hanyalah puncak gunung es.

Bahwa arus gelap yang tidak tertangkap jauh lebih banyak, jauh lebih rutin, dan jauh lebih normal daripada apa yang tercatat.

Ini bukan lagi tindak kriminal berbasis kesempatan. Ini sudah menjadi ekosistem ekonomi alternatif di Tempilang.

jawabannya tunggal dan sangat telanjang yaitu harga.

Di luar logika moral, di luar logika hukum, di luar logika negara bahwa ada satu logika yang lebih berkuasa di Tempilang: logika hidup.

“Kalau dijual ke buyer resmi, PT Timah, harganya kalah. Sedangkan kalau dibawa ke kolektor ilegal, uangnya jauh lebih cepat dan jauh lebih tinggi.” pengakuan nelayan Tempilang, dikutip Penababel.com

Mongabay Indonesia sudah menulis jauh sebelum kasus Tempilang viral:
perbedaan harga + pengawasan longgar = pintu resmi menuju ekonomi gelap.

jadi apa yang terjadi di Tempilang bukan kebetulan. ini formula yang sistem sudah ciptakan sendiri.

Nelayan Tempilang dulu pernah masih punya “napas” kecil: kompensasi.
itu bukan hadiah. itu bukan hibah.
itu hak konsekuensi dari laut mereka disedot.

tapi sekarang kompensasi itu hilang senyap tanpa surat, tanpa musyawarah, tanpa penjelasan.

Nelayan 1:

“Sekarang kompensasi itu hilang tanpa penjelasan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!