Berita

Gumawang BK 10: Di Balik Hamparan Padi, Ada Cerita yang Tak Selalu Hijau

206
×

Gumawang BK 10: Di Balik Hamparan Padi, Ada Cerita yang Tak Selalu Hijau

Sebarkan artikel ini

Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi hasil panen. Biaya angkut meningkat, risiko kerusakan hasil panen bertambah, dan pada akhirnya kembali membebani petani.

Selain itu, akses terhadap irigasi juga belum sepenuhnya stabil. Di beberapa titik, petani masih mengandalkan pola tanam berdasarkan musim, bukan sistem pengairan yang terjamin.

Generasi Muda: Bertahan atau Pergi

Fenomena lain yang mencuat adalah kecenderungan generasi muda untuk meninggalkan desa.

Minimnya variasi lapangan kerja membuat banyak anak muda memilih merantau ke kota.

“Kalau cuma sawah, kami takut nggak cukup untuk masa depan,” ujar Juan, seorang pemuda setempat.

Akibatnya, regenerasi petani menjadi tantangan nyata. Desa yang dulunya dipenuhi tenaga produktif kini perlahan menghadapi kekosongan di sektor pertanian.

Di sisi lain, Gumawang sebenarnya memiliki potensi besar. Selain pertanian, peluang pengembangan sektor UMKM dan digitalisasi desa mulai terlihat.

Namun, hingga kini belum ada program terintegrasi yang benar-benar mengangkat potensi tersebut secara maksimal.

Beberapa warga mengaku pernah mendapatkan pelatihan, tetapi tidak berlanjut dengan pendampingan yang konsisten.

Sebagai bagian dari wilayah Sumatera Selatan yang dikenal sebagai lumbung pangan, Gumawang BK 10 menyimpan ironi,  kaya hasil bumi, tetapi masih berjuang dalam kesejahteraan.

Di satu sisi, desa ini tetap hidup dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan yang kuat. Namun di sisi lain, ada persoalan struktural yang membutuhkan perhatian lebih serius, mulai dari tata niaga hasil pertanian, akses infrastruktur, hingga masa depan generasi mudanya.

Gumawang bukan hanya tentang apa yang terlihat di permukaan. Ia adalah cermin dari banyak desa lain, yakni kuat, bertahan, tapi juga menyimpan pertanyaan besar, sampai kapan Gumawang dan desa lainnya di Belitang ini bisa bertahan menjadi lumbung pangan?. (B5)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!