Penulis: Bangdoi Ahada
BELITANG, Berita5.co.id — Dari kejauhan, Desa Gumawang BK 10 di Belitang tampak seperti potret ideal pedesaan, sawah membentang, jalan desa ramai oleh aktivitas petani, dan udara yang masih bersih dari hiruk-pikuk kota.
Tapi seperti banyak desa di wilayah OKU Timur, realitas di balik lanskap indah itu tak selalu sesederhana yang terlihat.
Investigasi media ini yang dilakukan selama beberapa hari menunjukkan bahwa denyut kehidupan Gumawang bergerak di antara harapan dan tekanan yang kerap luput dari perhatian.
Mayoritas warga Gumawang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya padi.
Namun, ketergantungan ini justru menjadi titik rawan. Sejumlah petani mengaku harga gabah kerap tak stabil, bahkan cenderung ditekan saat musim panen raya.
“Kalau panen, harga malah turun. Kita nggak punya pilihan selain jual cepat,” ungkap Jani, salah satu petani yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Situasi ini memperlihatkan pola klasik, dimana petani sebagai produsen utama justru memiliki posisi tawar yang lemah dalam rantai distribusi.
Dugaan adanya permainan harga oleh tengkulak lokal pun mencuat, meski sulit dibuktikan secara terbuka.
Penelusuran menunjukkan bahwa sebagian besar hasil panen dari Gumawang tidak langsung masuk ke pasar besar, melainkan melalui beberapa lapis perantara. Di titik inilah margin keuntungan diduga menguap dari tangan petani.
Tidak sedikit warga yang menyebut adanya “pemain lama” dalam distribusi hasil pertanian. Mereka bukan hanya membeli, tetapi juga memberi pinjaman modal kepada petani sejak awal musim tanam, sehingga menciptakan ketergantungan yang sulit diputus.
Skema ini membuat petani terjebak dalam lingkaran berutang, panen, membayar, lalu kembali berutang.
Infrastruktur: Antara Ada dan Belum Merata
Secara umum, akses jalan di desa ini sudah cukup baik. Namun, investigasi menemukan bahwa beberapa jalur produksi menuju area persawahan masih ada yang mengalami kerusakan, terutama saat musim hujan.












