PANGKALPINANG, Berita5.co.id — Pada pagi yang basah oleh hujan dan doa, puluhan anggota Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) dan Siswa Pencinta Alam (SISPALA) berdiri tegak di halaman sebuah gedung putih yang sederhana namun kokoh seperti semangat mereka.
Dari lengan-lengan muda itu, terpancar keyakinan bahwa meski usia belum panjang, mereka sanggup berdiri pada garis terdepan kepedulian negeri.
Di hadapan mereka, kotak donasi yang lembap oleh embun hujan bukan sekadar wadah uang, melainkan simbol bahwa Bangka Belitung tidak pernah tinggal diam ketika saudara-saudara sebangsa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang berduka.
Gerakan penggalangan dana yang dilaksanakan Minggu, 7 Desember 2025 itu bukan hanya kegiatan sosial tetapi pernyataan tegas bahwa generasi muda Babel adalah generasi yang peduli, sigap, dan beradab.
Jumlah yang terkumpul, Rp6.246.600, bukanlah sekadar angka di atas kertas. Ia adalah nilai moral, akumulasi dari tangan-tangan yang membuka dompet dan hati.
Ini adalah bukti bahwa dari pulau kecil di selatan, gelombang empati dapat bergerak ke utara, melintas pulau dan selat, menembus batas administratif yang sering kali memisahkan kita dalam diam.
Koordinator PKD Mapala Babel, Ridho Azhari, menyebut gerakan ini sebagai panggilan jiwa.
“Alam adalah rumah kita, dan ketika rumah itu terluka, kami tak boleh tinggalkan begitu saja.”
Kata-kata ini memantul ke wajah para relawan yang tampak berdiri seperti barisan pengawal negeri.
Hujan yang membasahi pakaian mereka tidak menyurutkan langkah, tidak memadamkan bara kepedulian bahkan justru mempertegas bahwa niat mulia tidak pernah takut basah.
Seragam krem, syal hijau, biru, dan oranye dari komunitas KOPASSAS Babel, KOMPAS UBB, PETA ALUR, GEMPAL UNMUH Babel, GASIPA SMK 1 Mendo Barat, dan PASGAM Muhammadiyah Toboali menyatu seperti palet warna yang melukiskan wajah baru solidaritas pemuda Bangka Belitung.
Mereka datang dari organisasi berbeda, namun melebur dalam satu komando moral: membantu sesama.
Sebagian dari mereka bahkan masih duduk di bangku SMA.
Namun pada hari itu, mereka bukan lagi remaja biasa. Mereka adalah pembawa pesan kemanusiaan.
Anak-anak yang biasanya sibuk dengan tugas sekolah kini berdiri di jalan raya, mengetuk kaca mobil, memanggil warga untuk ikut berbagi.
Kepedulian mengubah mereka menjadi dewasa lebih cepat.












