MENTOK, Berita5.co.id — Geliat ekonomi pesisir Tanjung Laut tak lagi sekadar narasi. Ia kini hadir dalam rupa nyata seperti warung-warung kecil yang kembali buka sejak pagi, pasar pesisir yang hidup hingga sore, serta aktivitas warga yang menunjukkan satu hal penting yaitu uang berputar di kampung sendiri.
Fakta utama:
Dampak langsung: meningkatnya pendapatan keluarga pesisir, khususnya buruh tambang, pedagang kecil dan ibu rumah tangga.
Model pengelolaan: pertambangan laut legal di bawah payung Koperasi Merah Putih dengan sistem kerja kolektif dan pembagian manfaat lokal.
Dampak lanjutan: Pasar Mentok mengalami peningkatan transaksi harian secara stabil.
Arah kebijakan: sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan, koperasi dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kemaslahatan masyarakat.
“Sejak ada kegiatan ini, kami tidak lagi menunggu musim. Belanja ke pasar jadi rutin. Uang berputar, dagangan cepat habis,” ujar Suryani (38), pedagang sembako di Pasar Mentok, Minggu (28/12/2025).
Di pesisir, Hasan (41), ayah tiga anak, mengaku kini memiliki kepastian hidup.
“Dulu kerja serabutan. Sekarang ada kepastian upah. Anak bisa sekolah tanpa menunggak,” katanya.
Sementara Nurhayati (52), istri nelayan, menyebut perubahan paling terasa bukan pada kemewahan, tetapi ketenangan.
“Kami tidak kaya mendadak, tapi hidup lebih tenang. Itu yang penting.”
Narasi-narasi kecil inilah yang menyatu menjadi satu cerita besar ekonomi lokal yang bergerak dari bawah, dengan koperasi sebagai poros dan tambang sebagai alat, bukan tujuan.
Potret ini tergambar jelas dari aktivitas ekonomi warga di pesisir Tanjung Mentok. Sejumlah perempuan terlihat menimbang hasil tambang, bertransaksi, berbincang dan menunggu giliran kerja di bawah tenda-tenda sederhana di tepi laut. Bukan pemandangan chaos atau eksploitasi, melainkan ritme kerja kolektif masyarakat yang terorganisir.
Aktivitas ini disebut warga sebagai buah langsung dari unit usaha pertambangan laut berbasis koperasi yang dibina Pak Wawan, Ketua LPM sekaligus Ketua Koperasi Merah Putih Kelurahan Tanjung.
Aktivitas yang diambil di pesisir Tanjung Mentok menampilkan sisi yang jarang diangkat dalam pemberitaan pertambangan kehadiran perempuan dan keluarga dalam ekosistem ekonomi tambang rakyat.
Di salah satu kegiatan tampak ibu-ibu duduk mengelilingi timbangan manual, menyortir dan menimbang hasil tambang secara terbuka. Aktivitas ini menunjukkan bahwa proses ekonomi tidak tertutup, melainkan berlangsung transparan dan partisipatif. Timbangan sederhana menjadi simbol penting bahwa kejujuran, keterbukaan dan keadilan pembagian hasil.
Di aktivitas lainnya, warung kecil berdiri di tepi pantai, dikelilingi sepeda motor warga dan perahu tambang yang bersandar. Ini menegaskan bahwa pertambangan tidak berdiri sendiri, tetapi menciptakan rantai ekonomi turunan dari pedagang makanan, logistik harian, hingga jasa transportasi lokal.












