Bangka BaratLaw&CrimeLokalNewsPariwisata

Eddy Nayu dan Tanjung Kalian: Ketika Pembangunan Pelabuhan Dipertaruhkan Antara Ekonomi Rakyat dan Ancaman Penyeludupan

67
×

Eddy Nayu dan Tanjung Kalian: Ketika Pembangunan Pelabuhan Dipertaruhkan Antara Ekonomi Rakyat dan Ancaman Penyeludupan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Dari kejauhan, Pelabuhan Tanjung Kalian terlihat seperti simbol kemajuan di ujung barat Pulau Bangka. Kapal ferry datang dan pergi tanpa henti. Truk-truk logistik mengular panjang sejak pagi. Penumpang membawa tas, hasil dagangan, harapan, bahkan kecemasan mereka sendiri saat menyeberang menuju Palembang atau kembali ke Pulau Bangka.

Tetapi di balik denyut ekonomi yang terus bergerak itu, ada cerita lain yang selama bertahun-tahun tumbuh diam-diam di pelabuhan ini.

Cerita tentang lemahnya pengawasan.

Tentang barang-barang ilegal yang berulang kali ditemukan melintas di jalur penyeberangan paling sibuk di Bangka Belitung.

Tentang timah yang disembunyikan di balik fiber udang, solar ilegal yang bergerak dalam senyap, hingga narkotika bernilai miliaran rupiah yang mencoba menyeberang di antara ribuan kendaraan umum.

Di tengah situasi itu, suara keras mulai terdengar dari ruang parlemen daerah.

Anggota Komisi III DPRD Bangka Barat, Eddy Nayu, tampil sebagai salah satu figur yang paling terbuka menyuarakan pentingnya pembangunan pelabuhan berbasis keamanan dan perlindungan masyarakat.

Bagi Eddy Nayu, Pelabuhan Tanjung Kalian tidak boleh lagi dipahami hanya sebagai proyek infrastruktur atau tempat keluar masuk kapal ferry.

Pelabuhan itu sebagai gerbang ekonomi sekaligus gerbang keamanan Bangka Belitung.

Ketika gerbang itu lemah dijaga, maka yang terancam bukan hanya distribusi barang, tetapi juga masa depan daerah itu sendiri.

“Jika pemerintah dan ASDP ingin meningkatkan pelayanan penyeberangan, maka sistem pengamanannya juga harus ditingkatkan. Jangan sampai pembangunan hanya memperbesar pelabuhan, tetapi pengawasannya tetap lemah,” kata Eddy Nayu saat diwawancarai di Gedung DPRD Bangka Barat, Senin (25/05/2026).

Pernyataan itu lahir di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap maraknya kasus penyelundupan di kawasan Pelabuhan Tanjung Kalian.

Dalam beberapa tahun terakhir, aparat penegak hukum berkali-kali menggagalkan berbagai upaya penyelundupan di pelabuhan tersebut.

Mulai dari timah ilegal, BBM jenis solar tanpa dokumen, pupuk ilegal, hingga narkotika jaringan antarprovinsi.

Kasus demi kasus itu seperti meninggalkan pertanyaan besar yang terus menggantung di tengah masyarakat tentang bagaimana barang-barang ilegal tersebut bisa berulang kali mencapai kawasan pelabuhan?

Bagi sebagian warga Mentok, Tanjung Kalian kini tidak hanya dikenal sebagai gerbang penyeberangan.

Ia juga mulai dipandang sebagai titik rawan yang memperlihatkan rapuhnya sistem pengawasan distribusi barang antarwilayah.

Di tengah kritik itulah, Eddy Nayu mencoba membangun narasi yang berbeda tentang pembangunan pelabuhan.

Ia tidak menolak pembangunan dermaga baru.

Sebaliknya, ia mendukung penuh peningkatan kapasitas pelabuhan sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi Bangka Barat.

Namun ia mengingatkan, pembangunan fisik tanpa pengamanan modern hanya akan memperbesar celah kejahatan.

“Pembangunan harus memberikan rasa aman bagi masyarakat. Jangan sampai peningkatan mobilitas malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin melakukan tindakan ilegal,” ujarnya.

Pandangan Eddy Nayu memperlihatkan citra seorang legislator yang ingin menempatkan keamanan sebagai bagian utama dari pembangunan ekonomi.

Di saat banyak pembangunan infrastruktur sering hanya berorientasi pada percepatan proyek dan peningkatan kapasitas, Eddy Nayu justru berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar terhadap kepercayaan publik.

Sebab bagi masyarakat Bangka Barat, keamanan pelabuhan bukan hanya soal pemeriksaan kendaraan.

Ia menyangkut rasa aman masyarakat terhadap jalur distribusi daerah mereka sendiri.

Dalam wawancaranya, Eddy Nayu bahkan secara terbuka mendorong penggunaan alat pemindai X-Ray di kawasan pelabuhan sebagaimana diterapkan di bandara.

Menurut dia, pemeriksaan manual tidak lagi cukup menghadapi berbagai modus penyelundupan yang semakin canggih.

“Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh sejak awal kendaraan maupun barang masuk ke area pelabuhan. Dengan sistem yang lebih modern, maka potensi penyelundupan bisa ditekan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!