Bangka BaratBeritaLokalNewsPemerintahan

Yus Derahman di Tengah Rakyat: Kurban Presiden dan Pembangunan Kepedulian yang Menghangatkan Tempilang

64
×

Yus Derahman di Tengah Rakyat: Kurban Presiden dan Pembangunan Kepedulian yang Menghangatkan Tempilang

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Langit pagi di Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Rabu (27/05/2026), menggantung kelabu di atas deretan pohon hijau yang berdiri rapat di belakang Masjid Darul Abror. Awan tampak berat. Angin bergerak pelan membawa aroma tanah basah dan rumput yang diinjak ratusan pasang kaki warga sejak pagi buta.

Namun di tengah suasana mendung itu, kampung kecil di pesisir Bangka Barat tersebut justru tampak hidup dengan cara yang sederhana sekaligus menyentuh.

Anak-anak berlarian di tanah lapang sambil menunjuk ke arah seekor sapi limosin berukuran raksasa yang baru saja turun dari mobil pengangkut. Para ibu berdiri di bawah tenda sederhana sambil berbincang pelan. Tokoh agama, aparat desa, pemuda kampung hingga orang tua duduk berdampingan tanpa sekat protokoler yang terlalu kaku.

Di tengah keramaian itulah, nama “Si Boy” mendadak menjadi bahan percakapan seluruh kampung.

Sapi kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan bobot hampir mencapai satu ton itu bukan hanya menjadi perhatian karena ukuran tubuhnya yang besar. Lebih dari itu, kehadirannya perlahan berubah menjadi simbol tentang bagaimana negara hadir hingga ke desa-desa pesisir yang selama ini sering merasa jauh dari pusat perhatian pembangunan.

Namun di balik kemeriahan penyambutan sapi kurban tersebut, ada satu sosok yang juga terus mencuri perhatian masyarakat sejak pagi.

Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman.

Ia datang bukan dengan suasana formal yang menciptakan jarak antara pejabat dan rakyat. Tidak ada panggung megah. Tidak ada pengamanan berlapis yang membuat masyarakat sulit mendekat.

Yus justru terlihat berjalan perlahan di tengah kerumunan warga. Sesekali menyalami masyarakat, berbincang dengan tokoh agama, tersenyum kepada anak-anak yang terus mengelilingi sapi kurban raksasa tersebut.

Di momen sederhana itu, Yus Derahman sebagai pemimpin yang mencoba membangun kedekatan emosional dengan masyarakat terasa terbentuk secara alami.

Bukan melalui baliho.

Bukan melalui slogan politik.

Tetapi melalui kehadiran langsung di ruang sosial masyarakat desa.

Di bawah langit mendung Air Lintang pagi itu, politik pembangunan tampil dalam bentuk yang jauh lebih manusiawi.

Sebab bagi masyarakat desa, pembangunan kadang bukan hanya soal proyek besar atau angka-angka investasi.

Pembangunan juga tentang siapa yang datang mendengar mereka.

Siapa yang hadir di tengah kehidupan sederhana mereka.

Dan siapa yang membuat masyarakat merasa tidak dilupakan.

Di halaman Masjid Darul Abror, rasa itu tampak hidup sejak pagi.

Seekor sapi limosin cokelat tua berdiri tenang di atas bak kendaraan. Tubuhnya nyaris memenuhi seluruh ruang angkut. Warga berkerumun dari berbagai sisi hanya untuk melihat lebih dekat ukuran hewan kurban bantuan Presiden tersebut.

Anak-anak tampak paling antusias. Sebagian menunjuk ke arah tubuh besar Si Boy sambil tertawa kecil. Sebagian lain mencoba mendekat sebelum akhirnya ditarik perlahan oleh orang tua mereka.

Momen itu menghadirkan suasana yang jarang ditemui dalam kehidupan desa sehari-hari.

“Si Boy” bantuan sapi Presiden Prabowo yang diberikan langsung oleh Wakil Bupati Bangka Barat kepada Masyarakat Air Lintang

Keramaian yang lahir bukan karena konflik.

Melainkan karena kebersamaan.

Yus Derahman tampak memahami betul makna sosial dari suasana tersebut.

Karena itu, ia tidak hanya hadir sebagai wakil pemerintah daerah yang menyerahkan bantuan secara simbolis. Ia hadir sebagai figur yang mencoba menjaga hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat.

Dalam dunia politik modern yang sering dipenuhi pencitraan formal dan jarak birokrasi, pendekatan seperti itu memiliki makna yang kuat.

Sebab masyarakat hari ini tidak hanya menilai pemimpin dari pidato.

Mereka menilai dari kehadiran.

Dari cara seorang pemimpin berdiri di tengah rakyatnya.

Dari kesediaannya menyentuh langsung ruang sosial masyarakat kecil.

Di Desa Air Lintang pagi itu, Yus Derahman seperti sedang membangun citra politik pembangunan berbasis kedekatan sosial.

Suasana semakin hangat ketika tradisi nganggung dimulai.

Warga duduk bersama menikmati makanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Tidak ada pembatas status sosial. Tokoh agama duduk berdampingan dengan aparat desa. Pemuda kampung bercanda bersama warga lanjut usia.

Tradisi makan bersama itu menghadirkan wajah asli masyarakat Bangka yang masih menjaga gotong royong sebagai bagian penting kehidupan sosial mereka.

Bagi Yus Derahman, momen tersebut tampaknya lebih dari sekadar agenda seremonial pemerintahan.

Ia seperti membaca bahwa kekuatan Bangka Barat sesungguhnya tidak hanya berada pada sumber daya alam atau proyek pembangunan fisik.

Tetapi pada kemampuan masyarakat menjaga solidaritas sosial di tengah perubahan zaman yang semakin individualistik.

Karena itu, kehadirannya di tengah tradisi nganggung menghadirkan pesan politik yang cukup kuat bahwa pembangunan daerah tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya.

Dalam sambutannya, Yus menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan sapi kurban yang diberikan kepada masyarakat Bangka Barat pada Idul Adha tahun ini.

“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan sapi kurban ini. Semoga membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat,” ujarnya.

Namun di balik kalimat sederhana tersebut, tersimpan narasi politik pembangunan yang lebih besar.

Bahwa pemerintah daerah ingin memperlihatkan diri hadir bersama masyarakat hingga ke desa-desa.

Bahwa perhatian sosial bukan hanya milik pusat kekuasaan di kota besar.

Bahwa masyarakat pesisir tetap menjadi bagian penting dalam arah pembangunan Bangka Barat.

Yus Derahman juga menyampaikan bahwa tahun ini Bangka Barat menerima banyak bantuan hewan kurban dari perusahaan maupun pihak swasta.

Menurut dia, hal itu memperlihatkan masih hidupnya solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!