Berita

Dibalik Klaim 85% Dukungan: Rembuk Kampung Warga Batu Beriga Bongkar Skandal Persetujuan Semu PLTN Pulau Gelasa

657
×

Dibalik Klaim 85% Dukungan: Rembuk Kampung Warga Batu Beriga Bongkar Skandal Persetujuan Semu PLTN Pulau Gelasa

Sebarkan artikel ini

Proyek Gelasa disebut sebagai pilot project pertama mereka.

“PT Thorcon belum pernah menjalankan reaktor di negara mana pun. Ini seperti eksperimen besar di halaman rumah kami,” kata Jorgi.

Thorcon sendiri dikenal sebagai perusahaan energi berbasis Amerika-Indonesia yang menjanjikan reaktor modular berteknologi tinggi dan aman. Namun, skeptisisme warga semakin kuat karena peta tapak yang diusulkan bukan bagian dari penetapan resmi Pemprov Babel atau BAPETEN.

BAPETEN Diminta Transparan

Dalam forum Rembuk Kampung, warga mendesak BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) agar tidak hanya mendengar narasi investor dan pemerintah pusat.

Mereka menuntut proses izin PLTN dibuka ke publik serta memastikan evaluasi risiko dilakukan secara ilmiah dan partisipatif.

“Kami ingin BAPETEN objektif. Jangan sampai izin keluar tanpa memahami bahwa di balik pulau itu ada kehidupan kami,” tegas Jorgi.

Antara Energi Bersih dan Risiko Tersembunyi

Meski PLTN diklaim sebagai “energi bersih dan masa depan”, WALHI dan sejumlah peneliti lingkungan memperingatkan risiko tersembunyi:

  • Potensi pencemaran radioaktif di kawasan pesisir.
  • Ancaman ekosistem laut dan konservasi penyu.
  • Ketidakjelasan penanganan limbah nuklir.

Bahkan, investigasi internal WALHI menyebut ada indikasi penelitian pendahuluan yang didanai pihak berkepentingan, sehingga hasil riset terkesan berpihak.

Rembuk Kampung: Suara dari Pesisir

Rembuk Kampung Batu Beriga bukan sekadar forum diskusi — ia menjadi simbol bangkitnya suara rakyat yang menolak menjadi objek kebijakan.

Dari nelayan, petani, hingga tokoh adat, semua bersatu menegaskan satu hal: “Kami bukan kelinci percobaan energi.”

Di akhir acara, warga membubuhkan tanda tangan penolakan massal terhadap pembangunan PLTN di Pulau Kelasa.

“Kalau mereka memaksa, kami akan terus melawan dengan cara kami. Ini tanah dan laut kami, bukan laboratorium nuklir,” ujar salah satu tokoh adat yang menutup forum dengan doa bersama.

Proyek PLTN Thorium di Pulau Gelasa kini berada di persimpangan: antara janji energi masa depan dan realitas sosial-ekologis yang terabaikan.

Rembuk Kampung di Batu Beriga membuka tabir baru — bahwa di balik klaim dukungan publik, ada suara yang selama ini disenyapkan. (B5)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *