Penulis: Ical Icul
Editor: Bangdoi Ahada
BANGKA TENGAH, Berita5.co.id — Di tengah riuh tepuk tangan pemerintah pusat yang menyanjung “dukungan mayoritas masyarakat Babel terhadap PLTN thorium”, gelombang penolakan justru datang dari pesisir Desa Batu Beriga, Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah Ptovinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Warga yang merasa “disingkirkan dari percakapan” menggelar Rembuk Kampung, forum rakyat yang berubah menjadi simbol perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “proyek senyap” — pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa (Kelasa–red).
Riset yang Dipertanyakan, Dukungan yang Diduga Direkayasa
Klaim bahwa 85% masyarakat Bangka Belitung mendukung PLTN menjadi pemicu gejolak. Di lapangan, fakta berkata lain.
“Tidak ada sosialisasi yang jelas. Kami bahkan baru tahu Pulau Kelasa mau dijadikan lokasi PLTN dari media,” ujar Ahmad Subhan Hafiz, Direktur WALHI Kepulauan Bangka Belitung.
Hafiz menilai survei atau riset yang dijadikan dasar klaim dukungan publik terindikasi tidak independen.
Proses konsultasi publik minim, sementara hasilnya sudah digadang-gadang sebagai mandat sosial.
“Kalau masyarakat sekitar tapak saja tidak tahu, lalu siapa yang sebenarnya mendukung proyek ini?” sindirnya.
Pulau Kelasa: Surga Konservasi yang Terancam Nuklir
Investigasi yang dilakukan media ini menemukan bahwa Pulau Gelasa (Kelasa–res) memiliki empat nilai konservasi tinggi dan menjadi habitat penting bagi penyu, ikan karang, dan ekosistem laut dangkal.
Namun, pulau yang disebut-sebut akan menjadi “tapak uji coba” reaktor Thorium ini masuk wilayah tangkapan nelayan Batu Beriga, serta menjadi tempat berlindung saat cuaca ekstrem.
“Pulau itu hidup kami. Di situ kami cari ikan, di situ juga tempat penyu bertelur. Kalau dijadikan PLTN, mau ke mana kami?” keluh Jorgi, pemuda Batu Beriga yang aktif menggerakkan gerakan #TolakPLTNKelasa.
Perusahaan Tanpa Rekam Jejak Nuklir
Sorotan tajam juga tertuju pada PT Thorcon Power Indonesia, mitra pemerintah yang mendorong pembangunan PLTN thorium di Kelasa.
Berdasarkan penelusuran, perusahaan ini belum memiliki satu pun reaktor nuklir yang beroperasi di dunia.












