Babel hari iniBangka BaratBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNews

Di Tangan Iptu Dahri Iskandar, S.H: Dari Sungai yang Diracuni, Lahir Pembinaan dan Kesadaran Baru di Desa Tuik

84
×

Di Tangan Iptu Dahri Iskandar, S.H: Dari Sungai yang Diracuni, Lahir Pembinaan dan Kesadaran Baru di Desa Tuik

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio 

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di tengah keresahan warga Desa Tuik akibat praktik peracunan udang yang merusak ekosistem sungai, Kapolsek Kelapa, Iptu Dahri Iskandar, S.H, memilih jalan yang tidak biasa bukan sekadar penindakan hukum, melainkan pembinaan berbasis kemanusiaan. Empat warga yang diduga melakukan peracunan tidak langsung diproses secara represif, melainkan dibina di Polsek Kelapa melalui pendekatan problem solving hasil musyawarah bersama masyarakat dan pemerintah desa.

Peristiwa ini bermula pada Kamis, 19 Maret 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, ketika Bhabinkamtibmas Desa Tuik bersama Kepala Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, serta masyarakat menggelar mediasi terbuka. Musyawarah itu menjadi ruang bagi kegelisahan yang lama terpendam tentang sungai yang perlahan kehilangan nyawa, tentang udang yang tak lagi pulang ke jaring nelayan.

Hasilnya tegas namun berimbang para pelaku berjanji tidak mengulangi perbuatannya, sementara masyarakat sepakat menyerahkan mereka ke Polsek Kelapa untuk dibina, bukan semata dihukum.

Kapolsek Kelapa, Iptu Dahri Iskandar, menegaskan bahwa langkah tersebut bukan keputusan sepihak kepolisian, melainkan hasil kesepakatan kolektif.
“Penegakan hukum tidak selalu harus represif. Dalam kasus tertentu, penyelesaian berbasis problem solving jauh lebih efektif untuk membangun kesadaran,” ujar Iptu Dahri Iskandar, S.H, saat dikonfirmasi melalui via telepon, Selasa (24/03/2026).

Di balik keputusan itu, tersimpan kisah tentang sungai yang lebih dari sekadar aliran air. Bagi warga Tuik, sungai adalah nadi kehidupan tempat anak-anak belajar berenang, nelayan menggantungkan harapan dan alam memberi makan tanpa meminta balas.

Namun racun yang ditebar diam-diam telah mengubah segalanya.

Seorang nelayan tua, yang hadir dalam musyawarah itu, hanya mampu menatap air dengan mata yang berat. “Dulu sekali tebar jaring, sekarang seharian pun belum tentu dapat,” keluhnya lirih.

Di titik inilah pendekatan Iptu Dahri Iskandar menemukan maknanya.

Alih-alih memutus rantai masalah dengan hukuman semata, ia memilih merawat kesadaran. Para pelaku kini menjalani pembinaan di Polsek Kelapa hidup dalam ritme disiplin meliputi kegiatan pagi dimulai dengan olahraga, siang diisi kerja fisik sederhana dan malam diakhiri dengan pembinaan rohani.

Sebuah proses yang tidak hanya menyentuh tubuh, tetapi juga batin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *