Berita

Di Balik Tragedi Penambang Diterkam Buaya, Tambang Timah Ilegal di Sungai Baturusa Tetap Beroperasi dengan Sistem Koordinator

×

Di Balik Tragedi Penambang Diterkam Buaya, Tambang Timah Ilegal di Sungai Baturusa Tetap Beroperasi dengan Sistem Koordinator

Sebarkan artikel ini

Editor: Dedi_s

MERAWANG, Berita5.co.id — Hilangnya seorang penambang timah ilegal yang diduga diterkam buaya di aliran Sungai Kerekai, perbatasan Sungai Baturusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Minggu (19/7/2026) malam, bukan sekadar kisah tragis tentang konflik manusia dengan satwa liar.

Peristiwa itu justru membuka tabir aktivitas penambangan timah ilegal yang diduga masih berlangsung secara terbuka di kawasan tersebut.

Korban, Radit (RD) (36), warga Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, dilaporkan hilang saat berusaha menarik dan memindahkan ponton rajuk tower sekitar pukul 23.20 WIB.

Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber di lapangan, korban hingga kini masih berada di bawah penguasaan buaya di aliran Sungai Baturusa.

Namun, di balik tragedi itu, muncul fakta yang lebih mengkhawatirkan. Aktivitas penambangan di kawasan Sungai Kerekai disebut bukan dilakukan secara sporadis, melainkan telah berlangsung cukup lama dan diduga memiliki sistem pengelolaan tersendiri.

Seorang sumber yang mengetahui aktivitas di lokasi menyebut, terdapat sosok yang dikenal sebagai koordinator lapangan yang mengatur aktivitas tambang, termasuk pengumpulan uang koordinasi dari para penambang.

“Kalau uang koordinasi memang sudah lama diurus oleh Padli. Dari dulu dia yang mengurus koordinasi tambang di Sungai Baturusa,” ujar sumber tersebut.

Informasi itu mengindikasikan bahwa aktivitas tambang ilegal di kawasan sungai bukan lagi sekadar pekerjaan individu, melainkan diduga telah memiliki pola organisasi yang berjalan dalam waktu lama.

Sumber juga menyebut korban merupakan anak buah seorang pemilik ponton berinisial Op yang bekerja sama dalam aktivitas penambangan tersebut.

Kawasan Berbahaya, Aktivitas Tetap Berlangsung

Selain berstatus sebagai kawasan yang dihuni buaya liar, Sungai Kerekai dan Sungai Baturusa juga dikenal memiliki tingkat risiko kerja yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!