Berita

Dendang Jadi Post-Mining Learning Center Nasional, Dari Luka Eks-Tambang Menuju Sekolah Peradaban

56
×

Dendang Jadi Post-Mining Learning Center Nasional, Dari Luka Eks-Tambang Menuju Sekolah Peradaban

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio

PANGKALPINANG, Berita5.co.id — Di tengah lanskap kolong bekas tambang yang selama bertahun-tahun menjadi simbol luka ekologis, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Bappeda kini memimpin sebuah lompatan besar menjadikan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai Post-mining Learning Center nasional sebagai pusat pembelajaran tentang bagaimana eks-tambang tidak hanya dipulihkan, tetapi juga dididik ulang menjadi ruang kehidupan yang berkelanjutan.

Langkah ini menegaskan posisi Bappeda bukan sekadar sebagai perencana pembangunan, melainkan sebagai arsitek transformasi yang mampu mengubah paradigma dari eksploitasi menuju edukasi, dari kerusakan menuju keberlanjutan.

Program ini merupakan bagian dari akselerasi Prioritas Gubernur, yang secara tegas menempatkan reklamasi tambang sebagai agenda strategis daerah.

Di bawah orkestrasi Bappeda, kolaborasi lintas batas pun dibangun bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman dalam kerangka Mine Reclamation and Environmental Protection.

Namun, di balik istilah besar itu, sesungguhnya ada satu gagasan sederhana yang diperjuangkan menjadikan eks-tambang sebagai ruang belajar hidup.

Bappeda melihat bahwa tantangan terbesar pasca tambang bukan hanya memulihkan lahan secara fisik, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan sistem kehidupan yang harus dipahami, dirawat dan diwariskan.

Di sinilah konsep Post-mining Learning Center menemukan maknanya.

Ia bukan hanya tempat pelatihan atau proyek percontohan. Ia sebagai laboratorium hidup (living laboratory) di mana masyarakat, akademisi, pemerintah, hingga dunia internasional dapat belajar langsung dari realitas eks-tambang.

Di Desa Dendang, konsep ini telah menemukan bentuk nyatanya.

Kolong bekas tambang yang dulunya sunyi kini menjadi ruang interaksi antara manusia dan alam.

Melalui inovasi sawah apung yang dikembangkan oleh Pokdakan Aik Kik Apau, masyarakat membuktikan bahwa air bekas tambang bukan akhir dari segalanya melainkan awal dari kemungkinan baru.

Padi tumbuh di atas air, ikan hidup di bawahnya dan di antara keduanya, manusia belajar tentang keseimbangan.

Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Joko Triadhi, M.Si, menegaskan bahwa kekuatan utama dari program ini terletak pada pendekatan berbasis pengetahuan dan kolaborasi.

“Kami tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun sistem pembelajaran. Dari sinilah akan lahir model pembangunan baru berbasis eks-tambang yang bisa direplikasi secara luas,” ujarnya, Senin (13/04/2026).

Di bawah kepemimpinan Bappeda, proses tidak dilakukan secara serampangan. Tim Litbang bersama Bappenas dan BGR telah melakukan baseline assessment yang komprehensif memetakan kondisi biofisik, sosial, hingga ekonomi masyarakat secara mendalam.

Pendekatan ini memastikan bahwa setiap intervensi tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berkelanjutan.

Bappeda, dalam hal ini, tampil sebagai motor intelektual sekaligus sosial yang tidak hanya menghubungkan data dengan kebijakan, tetapi juga menyatukan aspirasi masyarakat dengan visi pembangunan jangka panjang.

Lebih dari sekadar proyek lingkungan, Post-mining Learning Center juga menyasar pemulihan sosial masyarakat.

Di balik kolong-kolong tambang, tersimpan cerita kehilangan nelayan yang kehilangan ruang tangkap, petani yang kehilangan tanah produktif, hingga generasi muda yang tumbuh tanpa ruang hidup yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!