Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, dan Satrio
TEMPILANG, Berita5.co.id — Dalam sepekan Februari 2026, aparat dari Polsek Tempilang dan Polres Bangka Barat mengungkap dua kasus yang mengguncang dua desa kecil di pesisir barat Pulau Bangka.
Di Desa Air Lintang, polisi membongkar dugaan sarang sabu dengan puluhan paket siap edar.
Di Desa Penyampak, seorang nenek melaporkan cucunya menjadi korban kekerasan seksual.
Terduga pelaku melarikan diri hingga Desa Lubuk Lingkuk sebelum ditangkap.
Dua peristiwa ini membuka pertanyaan yang lebih besar, bagaimana desa-desa bekas tambang menghadapi narkoba, kekerasan dan masa depan anak-anak mereka?
Pengungkapan kasus di Air Lintang bermula dari laporan warga tentang aktivitas mencurigakan di sebuah rumah di RT 06.
Sekitar pukul 11.50 WIB, tim “Ulat Bulu” Polsek Tempilang melakukan penyergapan dan menemukan puluhan paket kristal bening diduga sabu, dua timbangan digital, dan alat pengemasan.
Kasi Humas Polres Bangka Barat, Yos Sudarso, mengatakan kasus ini terungkap berkat laporan masyarakat.
Namun bagi warga, pengungkapan itu lebih dari sekadar berita kriminal.
Seorang ibu berkata, “Rumah itu dulu tempat anak-anak main bola. Sekarang kami takut melewati.”
Kasus kedua bermula dari laporan seorang nenek pada 28 Januari 2026.
Terduga pelaku, yang memiliki hubungan keluarga dengan korban, melarikan diri sebelum ditangkap melalui koordinasi dengan Polsek Lubuk Besar.
Kapolres Bangka Barat, Pradana Aditya Nugraha, menegaskan bahwa perlindungan anak adalah prioritas.
Namun di desa, luka itu lebih panjang dari proses hukum.
Seorang guru di Penyampak berkata, “Anak-anak sekarang takut bicara. Itu yang paling kami khawatirkan.
Tempilang berada di wilayah yang lama bergantung pada tambang timah.
Penelitian sosial tentang Bangka Belitung menunjukkan daerah tambang sering memiliki mobilitas ekonomi tinggi dan kontrol sosial yang lemah.
Penduduk datang dan pergi.
Pekerjaan informal meningkat.
Jaringan sosial rapuh.
Dalam ruang seperti itu, narkoba mudah masuk dan kekerasan sering terjadi dalam lingkar keluarga.
Seorang tokoh masyarakat Tempilang berkata,
“Kalau ekonomi tak stabil, narkoba masuk. Kalau keluarga rapuh, anak jadi korban.”












