Berita

Bazar Ramadhan Mentok: Berburu Takjil, Merawat Citra Kerukunan Beragama Kota 1.000 Kue

160
×

Bazar Ramadhan Mentok: Berburu Takjil, Merawat Citra Kerukunan Beragama Kota 1.000 Kue

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

MENTOK, Berita5.co.id — Ketika matahari turun perlahan di ufuk barat Mentok, jalan kecil di Kampung Tanjung berubah menjadi lautan manusia.

Di bawah lampu-lampu sederhana yang digantung di antara tiang bambu, warga dari berbagai latar belakang berdiri berderet.

Mereka menunggu takjil, menawar harga kue dan menyapa satu sama lain seperti keluarga lama yang dipertemukan kembali oleh aroma santan dan gula merah.

Di bazar Ramadhan ini, orang-orang datang bukan hanya untuk membeli makanan. Mereka datang untuk merawat kebiasaan yang lebih tua dari ingatan mereka sendiri. Tradisi kerukunan yang diwariskan dari dapur-dapur kecil keluarga Melayu dan oven sederhana rumah warga Tionghoa.

Di sini, Ramadhan tidak hanya milik satu agama. Ia menjadi ruang perjumpaan semua hati.

Bazar Ramadhan Kampung Tanjung, Kecamatan Mentok, Minggu (22/2/2026), dipadati ratusan warga sejak pukul 14.00 WIB. Program Pasar Ramadhan yang difasilitasi Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Bangka Barat menampung puluhan pedagang kecil yang menjual kue tradisional, es buah, lauk berbuka, hingga minuman khas pesisir.

Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat menunjukkan sektor UMKM kuliner menjadi salah satu tulang punggung ekonomi lokal, terutama pada bulan Ramadhan ketika omzet pedagang meningkat hingga dua atau tiga kali lipat.

Namun, angka-angka ekonomi itu hanya bagian permukaan dari cerita yang lebih dalam.

Di balik transaksi uang receh dan plastik berisi kue bangkit, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung yaitu rasa saling percaya.

“Setiap Ramadhan saya beli takjil di sini. Walaupun saya bukan Muslim, tapi ini sudah jadi tradisi keluarga kami,” kata Hendrawan (47), warga keturunan Tionghoa. Ia membeli beberapa bungkus kue untuk dibagikan kepada tetangganya yang berpuasa.

Di lapak sebelahnya, Siti Aminah (54) tersenyum. “Kalau Imlek kami dapat kue keranjang dari mereka. Kalau Ramadhan mereka bantu beli dagangan kami. Beginilah kami hidup di Mentok,” katanya.

Kalimat sederhana itu adalah definisi kerukunan yang paling nyata.

Mentok di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah lama dikenal sebagai kota pelabuhan timah sejak abad ke-18. Pedagang Melayu, Tionghoa, Arab dan Eropa pernah berlabuh di dermaganya. Dari interaksi itu lahir bukan hanya perdagangan, tetapi kebiasaan hidup bersama.

Masjid tua seperti Masjid Jami Mentok berdiri tidak jauh dari klenteng-klenteng tua peninggalan komunitas Tionghoa. Di antara azan dan denting lonceng ibadah, masyarakat tumbuh dalam keseharian yang saling menghormati.

Arsip sejarah Mentok sebagai kota pelabuhan timah mencatat bahwa sejak abad ke-19, masyarakat di kota ini saling berbagi makanan saat hari besar agama. Tradisi itu bertahan hingga kini, menjadi akar budaya yang tidak tertulis namun hidup dalam kebiasaan.

Laporan Indeks Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia juga mencatat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah dengan tingkat toleransi yang relatif tinggi. Namun di Kampung Tanjung, angka itu menemukan wajahnya dalam senyum dan sapaan.

Dalam kajian kuliner Nusantara, pakar gastronomi William Wongso menulis bahwa makanan tradisional adalah arsip sejarah budaya. Ia menyimpan jejak perjalanan bangsa, perdagangan dan perjumpaan manusia.

Di Mentok, arsip itu tersimpan dalam kue bangkit yang renyah, kue rintak yang harum kelapa panggang, dan bingka labu yang lembut. Teknik memanggang yang dikenal dalam tradisi Tionghoa berpadu dengan santan dan pandan khas Melayu. Dari dapur, lahir persaudaraan.

Hal serupa ditegaskan Erik Wolf dalam bukunya Food Tourism Around the World, bahwa wisata kuliner mampu memperkuat identitas komunitas sekaligus membangun kohesi sosial. Laporan gastronomi dari World Tourism Organization menyebut festival makanan tradisional dapat menjadi sarana menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *