Berita

Mabes Polri Kunci Aset Asui: Dari Mustang Kuning hingga Brankas Misterius, Dugaan Penyelundupan Timah Masuk Babak Serius

144
×

Mabes Polri Kunci Aset Asui: Dari Mustang Kuning hingga Brankas Misterius, Dugaan Penyelundupan Timah Masuk Babak Serius

Sebarkan artikel ini

Editor: Bangdoi Ahada

TOBOALI, Berita5.co.id – Garis polisi membentang tegas di halaman rumah dan gudang milik Suyatno alias Asui, Minggu (22/2/2026).

Mobil Mustang kuning bernopol B 1254 BAI tak lagi sekadar simbol kemewahan.

Satu unit excavator Kobelco, gudang yang diduga menjadi lokasi “penggorengan” pasir timah, hingga sebuah brankas turut disegel aparat.

Penggeledahan yang dipimpin langsung Dirtipter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Moh Irhamni dari Bareskrim Polri ini menandai babak baru dalam pusaran kasus yang menyeret nama Asui—figur yang selama ini dikenal sebagai pemain besar di lingkaran bisnis timah Toboali.

Pagi di Jalan Raya Toboali–Sadai, Desa Keposang, awalnya berjalan biasa.

Namun sekitar pukul 10.30 WIB, suasana berubah drastis.

Tim Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipter) Mabes Polri bersama Reskrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung dan Reskrim Polres Bangka Selatan melakukan penggeledahan menyeluruh.

Rumah, gudang, mobil sport, alat berat, hingga brankas dipasangi garis polisi. Dua pekerja—sopir dan kuli panggul—ikut diamankan untuk dimintai keterangan.

Langkah ini bukan operasi rutin. Sumber internal menyebut, penggeledahan merupakan pengembangan informasi dugaan penyelundupan pasir bijih timah—komoditas strategis yang selama bertahun-tahun menjadi jantung ekonomi sekaligus sumber masalah di Bangka Belitung.

Dugaan Penyelundupan: Pola Lama, Aktor Lama?

Isu penyelundupan pasir timah bukan cerita baru.

Namun, ketika Mabes Polri turun langsung, pesan yang muncul jelas ada dugaan jaringan yang lebih besar dari sekadar praktik tambang ilegal biasa.

Gudang di Jalan Asenku, Desa Keposang, yang diduga menjadi lokasi pengolahan (“penggorengan”) pasir timah, menjadi titik krusial. Jika benar digunakan untuk memproses material sebelum didistribusikan, maka rantai bisnisnya tak berhenti di tingkat lokal.

Pertanyaannya:

Apakah ini praktik mandiri atau bagian dari jaringan terstruktur?

Ke mana pasir timah itu dialirkan?

Siapa saja yang selama ini menikmati keuntungan dari mata rantai distribusi tersebut?

Brankas yang disegel menjadi simbol tanda tanya terbesar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!