BANGKA, Berita5.co.id — Upaya pelestarian kelekak kembali menemukan gaungnya saat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hadir langsung di Desa Zed, membawa pesan kuat bahwa hutan, ekonomi rakyat, dan masa depan sosial masyarakat harus kembali disatukan melalui tanaman aren.
Dalam kegiatan sosialisasi yang turut dihadiri Kepala Desa Zed, Mat Amin, pembina Yayasan CIS, serta masyarakat setempat, peneliti Bappeda Provinsi Babel Nurul Ichsan, S.T., M.Si. menyampaikan serangkaian temuan, analisis, dan harapan tentang pentingnya menjadikan aren sebagai komoditas masa depan, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, provinsi kini tengah mencari jalan ekonomi baru yang tetap berpijak pada keberlanjutan. “Kami dari provinsi mencari nilai ekonomi alternatif, salah satunya pengolahan tanaman kelekak yaitu aren,” ujarnya membuka diskusi.
Ia menjelaskan bahwa penelitian tentang aren menawarkan harapan yang jarang disadari masyarakat. “Penelitian pengolahan tanaman aren ini sangat menarik karena ada nilai ekologi sekaligus nilai ekonomi,” tambahnya.
Dalam kerangka perencanaan pembangunan daerah, tanaman aren menjadi simbol keselarasan karena ia tumbuh tanpa merusak hutan, dan menghidupi warga tanpa menghabiskan ruang ekologi.
Namun tantangannya besar. Ichsan melihat bahwa masyarakat baru dapat menjaga kelekak jika tumbuhan di dalamnya memiliki nilai yang mampu bersaing dengan komoditas perkebunan lain. “Tantangan kelekak bisa dijaga oleh masyarakat jika ada nilai ekonomis setara tanaman kelapa sawit,” tegasnya.
Tanpa insentif ekonomi yang nyata, kelekak akan terus menyusut, tergeser oleh alih fungsi lahan.
Bappeda Babel datang ke Desa Zed bukan sekadar membawa data, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang hampir hilang. “Kami datang ke Desa Zed untuk sharing, sosialisasi, dan edukasi tentang potensi tanaman aren ini,” ujarnya.
Sosialisasi ini menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan pengalaman masyarakat, antara teori pembangunan dan kehidupan sehari-hari warga desa.












