BANGKASELATAN, Berita5.co.id — Di balik geliat pembangunan pabrik kelapa sawit milik PT Bukit Palma Prima (BPP) di Desa Nangka, Kecamatan Air Gegas, tersimpan potret buram yang luput dari perhatian serius, yakni Jalan Raya Toboali–Pangkalpinang kini berubah menjadi “jalan rudak”—rusak, licin, berdebu, dan membahayakan.
Investigasi di lapangan mengungkap, kondisi jalan yang dulunya menjadi urat nadi mobilitas warga kini dipenuhi material tanah dan pasir yang tercecer.
Sumbernya diduga berasal dari kendaraan angkutan proyek yang keluar masuk area pembangunan tanpa prosedur pengendalian yang memadai.
Saat hujan turun, jalan tersebut menjelma menjadi lintasan berbahaya. Lapisan tanah yang menempel di aspal berubah menjadi lumpur licin, menciptakan efek seperti “arena seluncur” bagi pengendara, terutama roda dua.
Dalam kondisi panas, situasinya berbalik ekstrem: debu pekat beterbangan, menutup jarak pandang dan mengancam kesehatan warga.
Sejumlah warga Desa Nangka menyebut kondisi ini sebagai “jalan rudak”—istilah lokal yang menggambarkan jalan yang rusak parah dan tak layak dilalui.
“Setiap hari kami lewat sini dengan rasa was-was. Kalau hujan, motor bisa tergelincir kapan saja. Kalau panas, debunya luar biasa. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal nyawa,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Masalah ini memperlihatkan pola klasik dalam proyek skala besar, yakni aktivitas industri berjalan tanpa kontrol dampak di ruang publik.
Tidak ditemukan upaya serius seperti penyiraman jalan, pembersihan roda kendaraan (wheel wash), ataupun pengawasan ketat terhadap kendaraan proyek yang keluar masuk.
Padahal, dalam standar operasional proyek konstruksi yang bertanggung jawab, langkah-langkah tersebut merupakan kewajiban dasar untuk mencegah dampak lingkungan dan risiko keselamatan.












