Berita

Retakan “Wajar” atau Alarm Dini? Klarifikasi BWS Justru Buka Celah Baru Dugaan Cacat Proyek Kulong Minyak

86
×

Retakan “Wajar” atau Alarm Dini? Klarifikasi BWS Justru Buka Celah Baru Dugaan Cacat Proyek Kulong Minyak

Sebarkan artikel ini

Editor: Bangdoi Ahada
BELITUNGTIMUR, Berita5.co.id  — Upaya klarifikasi dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung terkait retakan dinding di kawasan Kulong Minyak justru memunculkan pertanyaan baru yang lebih mendasar, apakah ini sekadar fenomena alamiah, atau bukti nyata kegagalan perencanaan sejak awal?

Melalui Humas BWS Babel, Hadi Susanto, dijelaskan bahwa retakan pada dinding taman disebabkan oleh proses settlement, penurunan tanah timbunan yang disebut sebagai hal “wajar” dalam dunia konstruksi.

Tanah yang belum stabil, menurutnya, akan terus mengalami pemadatan alami selama 3 hingga 5 tahun.

“Penurunan sedikit pada dinding taman itu hal yang wajar dan memang bisa terjadi apalagi bukan berada pada tanah asli yaitu tanah timbunan. Proses penurunan tanah ini disebut settlement. Tanah di bawah bangunan talud merupakan tanah timbunan, sifatnya masih bisa mengalami penurunan secara alami. Jadi ketika dinding penahan tanah dibangun, tanah di bawahnya akan memadat secara alami seiring waktu, dan akan terjadi penurunan,” ujar Hadi.

Namun di titik inilah logika publik mulai terusik. Jika sejak awal sudah diketahui bahwa tanah akan terus mengalami penurunan dalam kurun waktu bertahun-tahun, mengapa struktur seperti talud tetap dibangun di atasnya tanpa memastikan stabilitas optimal?

Bukankah prinsip dasar konstruksi justru menuntut fondasi yang matang sebelum pembangunan dimulai?

Penjelasan BWS bahkan mengakui bahwa metode pemadatan yang digunakan –stamper tangan—tidak maksimal. Metode yang lebih efektif seperti vibrator roller tidak digunakan dengan alasan keterbatasan lokasi. Artinya, sejak awal sudah ada kompromi teknis dalam pekerjaan.
Dijelaskan Hadi bahwa Talud pasangan batu yang memiliki tinggi sekitar 70 cm, dibangun di atas tanah timbunan, secara alami tanah tersebut akan mengalami settlement 3-5 tahun kedepan, hal ini memakan waktu yang sangat lama apabila tanah tersebut ditunggu sampai dak terjadi penurunan sama sekali.
Beberapa metoda percepatan settlement juga sudah dilakukan pada saat proyek berlangsung, seper memakai stamper tangan, metode ini tidak cukup maksimal, metode menggunakan vibrator rollerlah yang dapat mengatasi masalah penurunan secara maksimal.

Namun karena lokasi timbunan yang sangat sempit, banyak pohon, dan di pinggir kolong, metode percepatan ini tidak dapat dilakukan.

Pertanyaannya, apakah keterbatasan lapangan bisa dijadikan pembenaran untuk menurunkan standar mutu proyek bernilai miliaran rupiah?

Lebih jauh, BWS menegaskan bahwa dinding yang retak bukan merupakan struktur utama dan tidak membahayakan. Penurunan disebut kecil, merata, dan tidak mengganggu fungsi. Bahkan diklaim tidak ada keluhan dari masyarakat.

Pemadatan tanah menggunakan stamper tangan tidak berbahaya, alasanya kata Hadi, sebagai berikut:

1. Dinding tersebut bukan merupakan struktur utama dari dermaga kolong minyak, struktur kolong minyak adalah pondasi tiang pancang dan beton bertulang. Dermaga ini secara struktur terpisah dengan bangun talud yang memiliki tinggi 70 cm.

2. Penurunannya kecil dan merata, itu dak berbahaya karena:
• Dinding tetap kuat dan tidak roboh.
• Tidak mengganggu fungsi taman.
• Tidak menyebabkan longsor.
• Dermaga utama tidak terganggu akibat penurunan tanah tersebut.

3. Penurunan kecil ini justru bagian dari proses alami tanah timbunan.

4. Fungsi Dinding penahan tanah tersebut untuk mencegah terjadinya limpasan air ke jalan raya apabila debit air pada kolong sangat nggi dan berpotensi melimpah keluar situ atau kolong.

“Kita dengan kolaborasi bersama pemda beltim timur akan terus melakukan pemeliharaan dan perbaikan terhadap kerusakan-kerusakan kecil yang terjadi agar masyarakat tetap nyaman berkunjung ke situ kulong minyak,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!