Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mulai membangun satu panggung besar bernama Forum Corporate Social Responsibility (CSR). Di dalamnya, terdapat 102 perusahaan yang kini didorong untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah. Namun lebih dari sekadar rapat koordinasi dan ajakan formal, forum ini perlahan sedang dibentuk menjadi simbol baru arah pembangunan Bangka Barat, sekaligus wajah pencitraan politik pembangunan yang ingin diperlihatkan kepada publik.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, tekanan kebutuhan masyarakat, serta tuntutan pembangunan yang terus membesar, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tampaknya menyadari satu hal penting tentang pemerintah tidak lagi cukup kuat berjalan sendiri.
Karena itu, dunia usaha kini dipanggil masuk ke pusat narasi pembangunan.
Ajakan itu disampaikan langsung Bupati Bangka Barat, Markus, saat memimpin rapat optimalisasi Forum CSR bersama perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Bangka Barat, Jumat (8/5/2026).
Namun di balik bahasa formal tentang “kolaborasi” dan “sinergi”, tersimpan pesan yang jauh lebih besar. Pemkab Bangka Barat sedang mencoba membangun citra pemerintahan yang mampu menggerakkan kekuatan ekonomi swasta untuk ikut membiayai denyut pembangunan daerah.
Forum CSR tidak lagi hanya diposisikan sebagai kewajiban sosial perusahaan. Ia mulai dibentuk sebagai instrumen politik pembangunan sekaligus tempat pemerintah menunjukkan bahwa pembangunan Bangka Barat dapat dilakukan melalui keterlibatan kolektif antara negara dan dunia usaha.
“Pemerintah daerah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Kita ingin perusahaan-perusahaan yang ada di Bangka Barat ikut mengambil bagian dalam membantu masyarakat dan pembangunan daerah,” ujar Markus.
Pernyataan itu terdengar sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Sebab di tengah realitas daerah yang masih menghadapi berbagai persoalan infrastruktur, ketimpangan sosial, fasilitas publik yang belum merata, hingga kebutuhan masyarakat kecil yang terus bertambah, keberadaan 102 perusahaan sesungguhnya sebagai kekuatan ekonomi yang sangat besar.
Kini, kekuatan itu sedang diarahkan masuk ke ruang pembangunan daerah.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tampaknya ingin memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang selama ini mengambil manfaat ekonomi dari tanah Bangka Barat juga ikut meninggalkan jejak sosial bagi masyarakat di sekitarnya.
Bukan sekadar hadir sebagai entitas bisnis yang mengambil sumber daya, tetapi menjadi bagian dari cerita pembangunan daerah.
Di sinilah Forum CSR mulai menemukan wajah barunya.
Ia bukan lagi hanya forum administratif yang membahas proposal bantuan atau agenda seremonial tahunan. Forum ini perlahan sedang dibangun menjadi etalase besar tentang bagaimana Pemkab Bangka Barat ingin dikenang sebagai pemerintahan yang mampu merangkul dunia usaha demi pembangunan masyarakat.
Namun di sisi lain, narasi besar tentang CSR juga menyimpan tantangan serius.
Selama ini, tidak sedikit program CSR yang hanya berhenti pada pencitraan sesaat. Bantuan sosial diberikan ketika kamera menyala. Paket sembako dibagikan ketika momentum hari besar datang. Dokumentasi dipublikasikan, tetapi dampaknya sering kali hilang setelah seremoni selesai.
Pola inilah yang secara tidak langsung disentil oleh Markus.












