Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
MUNTOK, Berita5.co.id — Negara, pada akhirnya, tidak selalu hadir lewat angka-angka APBD atau pidato di ruang rapat.
Ia hadir dalam bentuk paling sederhana yaitu sebungkus beras, minyak goreng, dan gula yang berpindah tangan di lorong sempit Kampung Tanjung.
Senin (26/1/2026), Wakil Bupati Bangka Barat Haji Yus Deraman memilih turun langsung ke ruang-ruang hidup warga, menyertai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kampung Tanjung menyalurkan 120 paket sembako bagi warga kurang mampu dan lansia di RW 01, RW 02, RW 04 dan RW 07.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan sosial seremonial. Ia adalah politik kehadiran dalam sebuah pesan kebijakan bahwa pemerintah daerah tidak berdiri jauh dari denyut kehidupan warga kecil.
Yus Deraman berdiri sejajar, menunduk, menyalami dan menyerahkan bantuan dengan tangan sendiri.
Gestur yang sederhana, tetapi sarat makna simbolik bahwa kekuasaan yang memilih mendekat, bukan berjarak.
“Saya sangat mendukung gerakan LPM Kampung Tanjung ini. Inisiatif seperti inilah yang dibutuhkan pemerintah daerah untuk memastikan kebijakan benar-benar sampai ke masyarakat,” ujar Yus Deraman, menegaskan arah kebijakan sosial yang ia dorong kolaboratif, responsif dan membumi.
Di tengah tekanan ekonomi, fluktuasi harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian penghasilan warga, kehadiran Wakil Bupati menjadi narasi tersendiri.
Bagi warga Kampung Tanjung, bantuan ini bukan semata soal nilai materi, melainkan pengakuan politik bahwa mereka masih terlihat dalam peta kebijakan daerah.
Seorang lansia perempuan, di rumah kayu bercat hijau yang mulai pudar, menerima paket sembako dengan tangan bergetar.
Ia tak mengucap banyak kata, tetapi diamnya berbicara lebih keras dari pidato mana pun.
Di titik inilah kebijakan menemukan wajah manusianya.
Dalam konteks ini, Yus Derahman memposisikan diri bukan hanya sebagai pejabat administratif, tetapi sebagai aktor kebijakan sosial yang memahami bahwa legitimasi kekuasaan dibangun dari kepercayaan publik dan kepercayaan lahir dari kehadiran nyata.
Ketua LPM Kampung Tanjung, Wawan, menyebut bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja kolektif yang sejalan dengan semangat pemerintah daerah.
LPM, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai struktur formal semata.
“Kami ingin LPM hadir sebagai tetangga bagi warga. Bantuan ini mungkin kecil, tapi kami ingin dapur warga tetap mengepul,” kata Wawan.












