Laporan: Icalicul
Editor: Bangdoi Ahada
PERLANG, Berita5.co.id — Klaim adanya respons positif masyarakat terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa terus dipertanyakan.
Masyarakat Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, secara tegas menyatakan penolakan terhadap proyek berisiko tinggi tersebut yang dinilai mengancam ruang hidup nelayan, kelestarian lingkungan, serta masa depan pariwisata berkelanjutan di wilayah pesisir.
Penolakan ini mencuat pasca sosialisasi yang digelar PT Thorcon pada 19 Desember 2025 lalu, yang kemudian dirilis ke publik seolah-olah mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Perlang.
Namun klaim itu dinilai menyesatkan dan berpotensi memecah belah masyarakat.
“Tidak benar jika dikatakan masyarakat Desa Perlang mendukung rencana PLTN di Pulau Gelasa. Sosialisasi yang dihadiri sekitar 35 orang tidak bisa dianggap mewakili lebih dari 6.000 penduduk Desa Perlang,” tegas Muhammad Rival, pemuda Desa Perlang, Selasa (7/1/2025).
Menurut Rival, sosialisasi tersebut bersifat satu arah dan minim partisipasi publik.
Warga tidak diberi ruang untuk berdialog secara setara, apalagi mengkritisi risiko yang mungkin muncul dari pembangunan PLTN.
“Yang disampaikan hanya dampak positif versi perusahaan. Dampak negatif, risiko lingkungan, potensi bencana, dan ancaman terhadap mata pencaharian nelayan sama sekali tidak dijelaskan,” ujarnya.
Pulau Gelasa dan perairan sekitarnya selama ini menjadi ruang hidup penting bagi nelayan tradisional.
Wilayah tersebut digunakan untuk mencari cumi-cumi (sotong), memancing ikan karang, hingga menjadi lokasi berlindung saat badai.












