Foto hanyalah ilustrasi melengkapi berita. (Ist/AI)
Oleh: Bangdoi Ahada
Jurnalis Babel
OPINI, Berita5.co.id — Di dunia pemerintahan, utang itu mirip kartu kredit. Kalau dipakai membeli sesuatu yang produktif, orang akan bilang, “Wah, investasi.”
Tapi kalau tidak jelas perhitungannya, tagihan datang lebih cepat daripada manfaatnya.
Rencana Pemerintah Provinsi Bangka Belitung meminjam Rp 293 miliar untuk membangun rumah sakit jantung ibarat operasi bypass terhadap pelayanan kesehatan daerah. Niatnya sangatlah mulia.
Selama ini, banyak warga Babel yang harus “berwisata medis” ke Palembang atau Jakarta hanya untuk menyelamatkan jantungnya. Ongkosnya besar, waktunya lama, dan keluarga ikut deg-degan.
Kalau rumah sakit jantung nanti benar-benar berdiri dan berfungsi optimal di Bangka Belitung, tentu masyarakat akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Namun, dalam dunia pemerintahan, niat baik saja belumlah cukup. Yang lebih penting adalah resepnya benar, dosisnya tepat, dan jangan sampai pasiennya malah bertambah parah.
Pinjaman daerah bukan uang yang jatuh dari langit. Itu adalah utang yang suatu hari harus dibayar. Bedanya, yang membayar bukan hanya pemerintah hari ini, tetapi juga APBD di tahun-tahun mendatang.
Maka muncul pertanyaan sederhana, apakah daerah ini sedang menjalani operasi jantung, atau justru sedang memasang ring pada keuangan daerah?












