Penulis: Belva Al Akhab dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Langkah kaki itu dimulai sejak pagi masih basah oleh embun. Udara sejuk yang turun dari perbukitan menyelimuti jalan setapak menuju Bukit Penyabung, sebuah kawasan yang berada di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat. Dari kejauhan, denting gong tua yang telah dimandikan pada malam sebelumnya masih terngiang di telinga. Sesekali terdengar lantunan doa yang dipimpin tetua adat, berpadu dengan desir angin yang membelai pepohonan tua di lereng bukit.
Di tempat inilah masyarakat Suku Jerieng kembali berkumpul.
Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua mereka. Kaum perempuan membawa hidangan tradisional yang telah disiapkan sejak subuh, sementara para laki-laki mengiringi perjalanan menuju puncak bukit dengan penuh khidmat. Tidak ada kemewahan. Tidak ada panggung megah. Yang hadir hanyalah kesederhanaan, keyakinan dan penghormatan kepada warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun selama ratusan tahun.
Bagi masyarakat luar, peristiwa itu mungkin terlihat seperti sebuah upacara adat biasa.
Namun bagi masyarakat Jerieng, langkah menuju Bukit Penyabung adalah perjalanan batin. Sebuah perjalanan untuk mengingat asal-usul mereka, menghormati para leluhur yang membuka perkampungan Pelangas, sekaligus mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan melalui hutan, ladang, kebun, dan seluruh bentang alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tradisi itulah yang dikenal sebagai Sedekah Gunung, atau dalam bahasa lokal disebut Taber Gunung.
Sebuah ritual adat yang hingga hari ini masih hidup, bahkan ketika banyak tradisi lain perlahan menghilang ditelan modernisasi. Sedekah Gunung bukan sekadar agenda tahunan masyarakat adat. Ia merupakan identitas budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Suku Jerieng.
Nilai penting tradisi tersebut bahkan telah diakui secara nasional. Pada tahun 2021, Sedekah Gunung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sebuah pengakuan negara bahwa tradisi masyarakat Jerieng memiliki nilai sejarah, budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga keberlangsungannya.
Pengakuan itu bukanlah akhir perjalanan.
Sebaliknya, status sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi titik awal lahirnya tanggung jawab yang jauh lebih besar. Bagaimana menjaga tradisi agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai sakralnya. Bagaimana mengenalkan budaya lokal kepada dunia tanpa mengubah makna yang diwariskan leluhur. Bagaimana menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan masyarakat.
Komitmen menjaga tradisi itu juga ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.
Pada pelaksanaan Sedekah Gunung tahun 2026, pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengalokasikan anggaran sebesar Rp20 juta untuk membantu penyelenggaraan kegiatan adat tersebut. Bantuan itu menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal yang telah menjadi bagian dari identitas Kabupaten Bangka Barat.
Nominal tersebut memang tidak besar jika dibandingkan dengan biaya pembangunan fisik.
Namun bagi masyarakat adat, perhatian pemerintah memiliki makna yang jauh melampaui angka.
Ia menjadi simbol bahwa tradisi yang selama ini diwariskan secara turun-temurun tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat semata, melainkan juga menjadi tanggung jawab negara untuk menjaga keberlangsungannya.
Dalam sambutan yang disampaikan pada pelaksanaan Sedekah Gunung, pemerintah daerah berharap tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai bagian dari keragaman adat dan budaya yang dimiliki Kabupaten Bangka Barat.
Harapan itu bukan tanpa alasan.
Di balik ritual adat yang setiap tahun dilaksanakan masyarakat Jerieng, tersimpan potensi besar yang hingga kini belum sepenuhnya tergarap.
Bukit Penyabung bukan hanya sebuah kawasan perbukitan.
Ia merupakan ruang budaya yang hidup.
Di tempat inilah sejarah masyarakat Jerieng dipelihara melalui doa-doa adat, ziarah leluhur, musik tradisional, tarian, hingga berbagai simbol budaya yang diwariskan lintas generasi. Setiap jengkal tanah di kawasan itu menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat membuka hutan, membangun perkampungan, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Berbeda dengan banyak destinasi wisata yang dibangun menggunakan beton dan baja, daya tarik Bukit Penyabung justru lahir dari sesuatu yang tidak dapat dibeli.
Keaslian.
Kepercayaan.
Tradisi yang masih dijalankan oleh masyarakatnya sendiri.
Tidak ada aktor yang memerankan tokoh adat.
Tidak ada ritual yang direkayasa demi tontonan wisata.
Semua berlangsung sebagaimana diwariskan oleh leluhur sejak ratusan tahun silam.
Karena itulah setiap prosesi Sedekah Gunung selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Wisatawan tidak sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan budaya.
Mereka diajak memasuki ruang kehidupan masyarakat adat.
Menyaksikan bagaimana doa dipanjatkan sebelum panen.
Bagaimana gong tua dimandikan sebagai simbol penyucian.
Bagaimana makam leluhur diziarahi sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah.
Dan bagaimana seluruh masyarakat berkumpul tanpa memandang usia maupun status sosial untuk duduk bersama menikmati hidangan yang dimasak secara gotong royong.
Di era ketika banyak daerah berlomba membangun destinasi wisata buatan, Bukit Penyabung justru memiliki sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Authenticity.
Keaslian budaya yang tidak dibuat-buat.
Inilah yang sebenarnya menjadi kekuatan utama Sedekah Gunung.
Tradisi ini bukan hanya menarik karena usianya yang telah mencapai ratusan tahun.
Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana masyarakat Jerieng memaknai hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Setelah musim tanam selesai, masyarakat tidak langsung merayakan hasil kerja keras mereka.
Mereka lebih dahulu berkumpul untuk berdoa.
Mengucapkan syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Memohon keselamatan.
Memohon keberkahan.
Serta berharap hasil panen tahun berikutnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, filosofi seperti ini semakin jarang ditemukan.
Ketika banyak orang memandang alam hanya sebagai sumber ekonomi, masyarakat Jerieng justru melihat hutan, bukit, sungai dan tanah sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati.
Mereka percaya keseimbangan alam akan menentukan keberlangsungan hidup manusia.
Karena itulah Sedekah Gunung bukan sekadar ritual syukuran panen.
Ia sebagai pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta.
Nilai-nilai itulah yang membuat Sedekah Gunung memiliki arti jauh lebih besar dibandingkan sebuah festival budaya biasa.

Ia sebagai ruang pendidikan.
Ruang pewarisan nilai.
Sekaligus ruang perjumpaan antara generasi tua dan generasi muda agar sejarah tidak berhenti hanya sebagai cerita.
Setiap tahun, anak-anak Jerieng berjalan mengikuti orang tua mereka menuju Bukit Penyabung.
Mereka mendengar kisah tentang Kek Adung, para batin gunung, dan leluhur yang pertama kali membuka kawasan itu.
Mereka belajar menghormati orang tua.
Belajar menjaga alam.
Belajar mencintai budaya sendiri.
Tanpa disadari, proses pewarisan itu berlangsung secara alami.
Tidak melalui ruang kelas.
Tidak pula melalui buku pelajaran.
Melainkan melalui pengalaman hidup yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Inilah kekuatan sesungguhnya dari Sedekah Gunung.
Ia tidak hanya menjaga budaya.
Ia juga menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Selama langkah kaki masyarakat Jerieng masih terus mendaki Bukit Penyabung setiap bulan Muharam, selama doa-doa itu masih menggema di antara pepohonan tua, selama gong warisan leluhur masih dipukul mengiringi prosesi adat, selama itu pula identitas budaya mereka akan tetap hidup.
Di balik kesederhanaannya, Bukit Penyabung sesungguhnya sedang menyimpan sebuah kekayaan yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia.
Sebuah warisan budaya yang telah diakui negara, dijaga masyarakat, didukung pemerintah daerah, dan kini menunggu satu langkah berikutnya berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu mengangkat nama Bangka Barat ke panggung nasional, bahkan dunia.
Dari Gong Tua hingga Bukit Penyabung
Ketika malam mulai turun menyelimuti Desa Pelangas, suasana perlahan berubah.
Rumah-rumah panggung yang berdiri di tengah perkampungan mulai dipenuhi warga. Lampu-lampu sederhana menerangi halaman kediaman pemangku adat. Dari kejauhan terdengar suara percakapan yang saling bersahutan, diselingi tawa anak-anak yang berlarian tanpa memahami bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sejarah yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Bagi masyarakat Suku Jerieng, Sedekah Gunung tidak dimulai ketika rombongan berjalan menuju Bukit Penyabung.
Tradisi itu justru telah dimulai sejak malam sebelumnya.
Di rumah Ketua Adat, seluruh rangkaian adat diawali dengan doa bersama sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar seluruh prosesi berlangsung lancar. Setelah itu perhatian masyarakat tertuju kepada sebuah benda yang usianya bahkan jauh lebih tua dibandingkan sebagian besar penduduk yang hadir malam itu.
Sebuah gong tua.
Gong tersebut bukan sekadar alat musik tradisional.
Ia merupakan simbol perjalanan panjang masyarakat Jerieng yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebelum dibunyikan, gong itu dimandikan terlebih dahulu melalui prosesi adat yang penuh penghormatan.
Tidak ada unsur pemujaan dalam ritual tersebut.
Bagi masyarakat Jerieng, pemandian gong sebagai bentuk penghormatan terhadap benda pusaka yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari perjalanan budaya mereka. Tradisi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan leluhur harus dirawat, sebagaimana manusia menjaga sejarahnya sendiri.
Setelah prosesi selesai, suasana berubah menjadi lebih hangat.
Alunan musik dambus mulai dimainkan.
Petikan senarnya memecah kesunyian malam, mengiringi masyarakat yang berkumpul hingga larut. Tidak sedikit warga yang datang hanya untuk bersilaturahmi. Sebagian membawa makanan, sebagian lagi berbincang tentang panen, keluarga, hingga cerita-cerita lama mengenai para batin gunung yang dahulu memimpin ritual adat.
Malam itu bukan sekadar hiburan.

Ia menjadi ruang perjumpaan antargenerasi.
Orang tua menceritakan kisah kepada anak-anaknya.
Anak-anak mendengarkan bagaimana leluhur mereka membuka hutan, membangun permukiman, menjaga alam dan mempertahankan tradisi meski zaman terus berubah.
Tradisi lisan seperti inilah yang membuat Sedekah Gunung tetap hidup.
Bukan hanya karena ritualnya.
Melainkan karena cerita-cerita yang terus diwariskan.
Keesokan harinya, matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika masyarakat mulai berkumpul kembali.
Mereka mengenakan pakaian terbaik.
Kaum perempuan membawa berbagai hidangan yang akan disantap bersama setelah seluruh rangkaian ritual selesai.
Sementara kaum laki-laki mempersiapkan perjalanan menuju Bukit Penyabung.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada iring-iringan yang mewah.
Sebagian besar masyarakat memilih berjalan kaki sebagaimana dilakukan para leluhur mereka dahulu.
Langkah pertama dimulai dari rumah Ketua Adat menuju Balai Adat Desa Pelangas.
Balai adat bukan sekadar bangunan.
Ia merupakan simbol persatuan masyarakat Jerieng.
Di tempat itu berbagai persoalan adat dibicarakan. Berbagai keputusan penting diambil. Dari sanalah perjalanan spiritual menuju Bukit Penyabung dimulai.
Sebelum mendaki bukit, rombongan terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam para leluhur.
Prosesi ini memiliki makna yang sangat dalam.
Masyarakat tidak datang untuk meminta kepada orang yang telah meninggal.
Sebaliknya, mereka datang untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah membuka kampung, mengajarkan cara bercocok tanam, menjaga hutan, serta mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Rumput-rumput liar dibersihkan.
Air disiramkan ke makam.
Doa dipanjatkan.
Suasana menjadi hening.
Di tengah keheningan itu, setiap orang seakan diingatkan bahwa kehidupan hari ini tidak pernah lepas dari perjuangan mereka yang telah lebih dahulu pergi.
Ketua Adat Suku Jerieng, Datok Janum, pernah menjelaskan bahwa ziarah makam merupakan salah satu rangkaian penting sebelum menuju Bukit Penyabung.
Menurutnya, masyarakat menziarahi makam sejumlah leluhur seperti Kek Fit, Kek Adung, dan para sesepuh lainnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi utama pelaksanaan Sedekah Gunung.
Perjalanan kemudian berlanjut.
Jalan setapak mulai menanjak.
Pepohonan yang menjulang tinggi menaungi rombongan.
Sesekali terdengar suara burung dari balik rimbunnya hutan.
Tidak ada yang terburu-buru.
Semua berjalan mengikuti irama alam.
Karena bagi masyarakat Jerieng, perjalanan menuju Bukit Penyabung bukan sekadar perpindahan tempat.
Ia sebagai perjalanan membersihkan hati.
Bukit Penyabung sendiri bukan dipilih secara kebetulan.
Tempat ini dipercaya sebagai kawasan yang sejak dahulu memiliki hubungan erat dengan sejarah masyarakat Jerieng.
Di sinilah para leluhur dahulu menjalankan berbagai ritual adat.
Di sinilah doa-doa dipanjatkan setiap selesai musim tanam.
Dan di sinilah hubungan antara manusia dengan alam terus dipelihara hingga sekarang.
Sesampainya di puncak bukit, masyarakat duduk melingkar.
Ketua Adat memimpin prosesi inti.
Di hadapannya telah disiapkan berbagai perlengkapan adat, termasuk beras, kunyit, serta tanaman taber yang menjadi bagian dari simbol ritual.












