BangkaBangka BaratLokalNewsOpini

Tembelok- Keranggan: Laut Yang Dikeruk, Jeritan Bumi Tak Didengar dan Negara Datang Terlambat

196
×

Tembelok- Keranggan: Laut Yang Dikeruk, Jeritan Bumi Tak Didengar dan Negara Datang Terlambat

Sebarkan artikel ini

hilangnya biodiversitas

Sementara studi dalam Marine Pollution Bulletin menyebutkan bahwa sedimentasi dari tambang dapat mengganggu fotosintesis plankton fondasi rantai makanan laut.

Artinya, kerusakan ini tidak berhenti pada hari ini. Ia akan berlanjut menyebar, meluas dan mungkin tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.

Di darat, ada Lina. Istri nelayan. Ia tidak pernah ke laut, tetapi hidupnya sepenuhnya bergantung pada laut.

“Kalau suami pulang kosong, kami makan apa?” katanya, sambil menyiangi ikan kecil hasil tangkapan hari itu yang tidak seberapa.

Ia tidak bicara tentang hukum. Ia bicara tentang dapur.

Anaknya pernah bertanya.
“Bu, kenapa lautnya kotor?”

Lina tidak tahu harus menjawab apa.

Ia hanya berkata.
“Karena orang-orang sedang ambil sesuatu dari bawah sana.”

Jawaban itu sederhana. Tetapi di dalamnya ada luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kebijakan.

Jika Tembelok–Keranggan ingin diselamatkan, maka solusi tidak boleh setengah hati.

1. Restorasi Ekosistem yang Serius
Menurut UNEP, restorasi adalah investasi jangka panjang.

Langkah:

rehabilitasi terumbu karang

pengendalian sedimen

zona larangan tambang permanen

2. Keadilan untuk Nelayan
Dalam pandangan FAO:

perlindungan nelayan adalah kunci keberlanjutan

akses sumber daya harus dijamin

Langkah:

wilayah tangkap eksklusif

kompensasi berbasis kerusakan

3. Bongkar Jaringan Tambang
Menurut Transparency International:

penegakan hukum harus menyasar aktor besar

Langkah:

investigasi jaringan

transparansi hukum

4. Alternatif Ekonomi
Berdasarkan UNDP:

ekonomi lokal harus didiversifikasi

Langkah:

ekowisata

budidaya laut

ekonomi hijau

5. Reformasi Tata Kelola
Pendekatan Integrated Coastal Zone Management (ICZM) dari UNEP harus diterapkan.

Sarman mungkin akan berhenti melaut suatu hari nanti. Lina mungkin akan menemukan cara lain untuk bertahan hidup. Tetapi laut akan tetap ada, membawa semua ingatan tentang apa yang kita lakukan hari ini.

Pertanyaannya bukan lagi apakah tambang ilegal bisa dihentikan.
Pertanyaannya adalah apakah kita masih punya cukup waktu untuk memperbaiki apa yang sudah rusak?

Karena jika tidak,
maka suatu hari nanti,
anak-anak di pesisir tidak lagi bertanya mengapa laut kotor tetapi mereka akan bertanya:

“Di mana ikan-ikan itu dulu hidup?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!