Penulis: Guntur
BANGKASELATAN, Berita5.co.id – Dunia pertambangan timah di Bangka Belitung (Babel), khususnya di Negeri Junjung Besaoh, Bangka Selatan (Basel), tengah diliputi ketidakpastian.
Isu ini mencuat lantaran banyak dari penambang Rakyat kecil hingga collector timah yang dianggap berada di area “abu-abu” mulai menunjukkan kegelisahan.
Bahkan, sebagian penambang rakyat dikabarkan mulai mogok kerja secara perlahan.
Padahal, hingga kini timah masih menjadi primadona Bangka Belitung. Sebagian besar masyarakat di provinsi ini masih menggantungkan hidup dari sektor pertambangan, baik dalam skala kecil maupun besar.
Ketua Forum Tambang Rakyat Bersatu (FTRB), Matoridi, menyebut kondisi tambang rakyat saat ini sedang menjerit.
Harga timah yang kian menekan serta maraknya penertiban tambang rakyat membuat perekonomian di Bangka Belitung, khususnya Bangka Selatan, terancam lumpuh.
“Banyak kawan-kawan yang sehari-harinya bergantung dengan bertambang, ada yang skala kecil seperti tungau, ngelimbang, dan sebagainya. Kini mereka takut bekerja. Inilah potret sedih wajah Babel saat ini akibat kebijakan pusat yang melakukan penertiban tambang rakyat di kawasan hutan,” ujar Matoridi.
Ia menambahkan, masyarakat Babel sejatinya merupakan korban kebijakan Kepmenhut Nomor 357 Tahun 2004, yang menetapkan lebih dari 65% hutan di Bangka Selatan berstatus kawasan produksi dan lindung. Akibatnya, kebun-kebun milik masyarakat tidak bisa disertifikatkan.












