Berita

Talisno, Penjaga Warna dari Parit Padang: Guru Seni yang Merawat Jiwa Bangka

96
×

Talisno, Penjaga Warna dari Parit Padang: Guru Seni yang Merawat Jiwa Bangka

Sebarkan artikel ini

BANGKA, Berita5.co.id  — Rabu pagi, 24 Desember 2025, Parit Padang masih menyimpan embun yang enggan menguap.

Jalanan belum ramai, suara motor belum saling bersahutan dan angin laut datang perlahan membawa bau asin yang tipis seolah mengingatkan bahwa wilayah ini tumbuh dari laut, dari tanah dan dari kerja sunyi orang-orangnya.

Di sebuah rumah sederhana di tepian Sungailiat, dinding tidak sepenuhnya putih. Sebagian menjadi saksi bahwa ada warna yang telah mengering, ada garis yang belum selesai, ada bidang yang sengaja dibiarkan kosong.

Di rumah itulah Talisno menyambut kami, seorang Guru Seni dan Budaya yang selama lebih dari tiga dekade memilih hidup di jalur pengabdian, menjaga seni tetap bernapas di tengah zaman yang kian tergesa.

“Seni itu tidak pernah minta dipamerkan. Ia hanya minta dirawat. Kalau dirawat, ia hidup sendiri.” katanya pelan sambil menyeduh kopi.

Kalimat itu tidak diucapkan sebagai slogan. Ia mengalir seperti keyakinan yang telah lama matang.

Talisno lahir di Sungailiat, 28 Oktober 1966. Ia tumbuh di tanah yang sama dengan tempat ia mengajar hari ini.

Sungailiat baginya bukan sekadar titik koordinat administratif, melainkan lanskap emosi tempat anak-anak belajar berharap, orang tua bekerja tanpa banyak bicara dan seni kerap bertahan dalam kesunyian.

Secara administratif, Talisno adalah Pegawai Negeri Sipil.

Ia kini aktif mengajar di UPTD SMP Negeri 5 Sungailiat, sekolah negeri berakreditasi A yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Parit Padang.

Namun ketika pintu rumahnya dibuka, identitas formal itu menyingkir.

Yang tersisa adalah tangan yang setia bekerja, warna yang jujur dan waktu yang ia serahkan sepenuhnya kepada anak-anak tertarik dalam seni.

Ruang tamunya sederhana, namun hidup.

Di atas meja, tersusun beberapa karya seperti lukisan burung-burung kecil berwarna merah, kuning dan biru yang bertengger di dahan mangga.

Sepasang burung nuri merah menyala dengan latar air terjun dan pegunungan, potret kucing bermata hijau tajam, serta sebuah lukisan hitam-putih di dinding seperti air terjun malam hari dengan bulan menggantung di langit gelap.

Setiap karya seolah menunggu untuk bercerita.

“Saya tidak memilih tema yang jauh-jauh. Saya memilih yang dekat dengan anak-anak. Burung, buah, kucing, air. Karena dari yang dekat, mereka belajar. mencintai. Dari mencintai, mereka belajar menjaga.” ujar Talisno.

Ia lalu menunjuk lukisan burung-burung kecil di antara buah mangga. Warna hijau mangga tampak basah oleh titik-titik embun.

Daun-daun digambar teliti, uratnya tegas, cahaya jatuh lembut dari sisi kiri.

Burung-burung itu tidak statis, ada yang mengepak, ada yang menoleh dan ada yang bertengger diam.

“Ini tentang keseimbangan. Alam itu ramai tapi tertib. Burung tidak saling berebut, buah tidak iri pada daun. Anak-anak perlu melihat itu sejak dini.” katanya.

Bagi Talisno, seni tidak boleh terikat oleh kemewahan alat.

Ia melukis di kanvas, karton, bahkan dinding rumah.

Di sudut garasi, tampak bekas goresan hitam-putih dengan lukisan air terjun malam langsung di tembok.

Air jatuh lurus, memantul ke kolam gelap. Bulan bulat menggantung di langit hitam. Bebatuan digambar kasar, jujur, tanpa kompromi.

“Kalau menunggu kanvas baru melukis, seni akan sering tertunda. Dinding ini juga jujur. Ia tidak pernah protes. Ia hanya menerima.” katanya sambil tersenyum.

Lukisan hitam-putih itu terasa meditatif. Kontrasnya tegas.

Ada kesunyian yang menenangkan dengan sebuah jeda di tengah dunia yang bising.

“Ini tentang jeda. Anak-anak juga perlu jeda. Tidak semua harus berwarna-warni. Kadang, diam itu yang menguatkan.” ucapnya.

Wajah, Karikatur dan Etika Seni
Di meja lain, potret kucing dengan latar merah muda menatap ke samping.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!