Bangka BaratBeritaEdukasiLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPemerintahan

Sungai Butun: Urat Nadi Desa Tugang Berubah Menjadi Zona Konflik, Siapa yang Sedang Kehilangan Ruang Hidup?

×

Sungai Butun: Urat Nadi Desa Tugang Berubah Menjadi Zona Konflik, Siapa yang Sedang Kehilangan Ruang Hidup?

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Sungai Butun selama puluhan tahun dikenal sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Dari sungai inilah masyarakat mencari ikan, memasang bubu udang, mengairi kebun, hingga membangun peradaban kecil yang bertahan lintas generasi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah Sungai Butun mulai berubah.

Sungai yang dahulu identik dengan sumber penghidupan kini lebih sering muncul dalam berita karena konflik manusia dan buaya, nelayan yang kehilangan nyawa, serta hilangnya warga yang memicu operasi pencarian besar-besaran.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di Sungai Butun?

Apakah buaya yang semakin agresif?

Ataukah manusia yang tanpa sadar terus mempersempit ruang hidup satwa liar yang selama ratusan tahun lebih dahulu menghuni kawasan tersebut?

Investigasi lapangan dan penelusuran sejarah menunjukkan bahwa konflik yang terjadi hari ini tidak lahir dalam semalam. Ia merupakan akumulasi panjang dari perubahan lingkungan, perubahan pola pemanfaatan ruang, serta meningkatnya aktivitas manusia di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Butun.

Bagi masyarakat Tugang generasi tua, Sungai Butun bukan sekadar bentang geografis.

Ia sebagai alasan mengapa permukiman berkembang.

Sebelum jalan darat membuka akses ke berbagai wilayah, sungai menjadi jalur transportasi utama masyarakat. Perahu-perahu kayu membawa hasil kebun, hasil hutan, ikan, hingga kebutuhan pokok masyarakat.

Di sepanjang aliran sungai itulah kemudian tumbuh kehidupan.

“Dulu orang lebih kenal jalur sungai daripada jalur darat. Kalau mau ke kebun, ke dusun lain atau membawa hasil panen, ya lewat sungai. Sungai ini yang menghidupi kampung,” ujar seorang tokoh masyarakat Tugang yang telah hidup lebih dari enam puluh tahun di kawasan tersebut.

Menurutnya, hampir tidak ada keluarga di Tugang yang tidak memiliki hubungan dengan Sungai Butun.

Ada yang menjadi nelayan, pencari udang, pencari ikan, pemburu kepiting bakau, hingga petani yang bergantung pada sumber air sungai.

“Kami tumbuh bersama sungai ini. Belajar berenang di sini, belajar mendayung di sini, bahkan banyak cerita masa kecil kami lahir dari sungai ini,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Sungai Butun bukan hanya aset ekologis, tetapi juga aset sosial, budaya dan sejarah yang membentuk identitas Desa Tugang.

Setiap dini hari, sebelum matahari menyentuh pucuk-pucuk pohon di tepian sungai, sejumlah nelayan sudah bergerak menggunakan perahu kecil.

Mereka membawa bubu dan perangkap tradisional.

Target mereka udang sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Seorang nelayan senior mengenang masa ketika Sungai Butun dikenal sebagai salah satu lokasi pencarian udang terbaik di wilayah Kelapa.

“Dulu hasilnya luar biasa. Satu malam pasang bubu bisa membawa pulang hasil yang cukup untuk kebutuhan keluarga beberapa hari. Banyak anak sekolah dari hasil mencari udang,” katanya.

Namun pekerjaan tersebut sesungguhnya tidak pernah mudah.

Nelayan harus memahami pasang surut air, membaca cuaca, mengenali perubahan arus, serta mengetahui lokasi yang aman dan berbahaya.

Mereka hidup dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.

“Kami diajarkan untuk menghormati sungai. Jangan merusak alam. Jangan sembarangan. Karena sungai punya aturan yang harus dihormati,” ujarnya.

Kearifan lokal tersebut selama puluhan tahun menjadi benteng hubungan harmonis antara manusia dan alam. Namun benteng itu kini mulai diuji.

November 2024 menjadi salah satu masa paling kelam bagi masyarakat Tugang.

Jaka, seorang nelayan udang yang telah puluhan tahun mencari nafkah di Sungai Butun, dilaporkan hilang saat memasang perangkap udang seorang diri.

Beberapa hari kemudian, harapan keluarga pupus.

Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan diduga menjadi korban serangan buaya muara.

Peristiwa itu bukan sekadar tragedi keluarga.

Ia menjadi alarm bagi seluruh masyarakat Bangka Barat.

“Kami mencari dari pagi sampai malam. Banyak warga ikut membantu. Waktu jasad ditemukan, suasana sangat berat. Banyak yang menangis,” kata seorang warga yang ikut dalam pencarian.

Sejak saat itu, pertanyaan mulai muncul.

Mengapa konflik manusia dan buaya semakin sering terjadi?

Apakah populasi buaya meningkat?

Apakah habitat mereka terganggu?

Ataukah aktivitas manusia yang semakin masuk ke wilayah jelajah satwa liar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga kini belum sepenuhnya terjawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!