Bangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNewsPemerintahan

Spanduk Larangan Tambang Dipasang di Talut Dermaga Belo Laut: Ini Cara Menciptakan “Benteng Moral” Menjaga Laut Mentok

196
×

Spanduk Larangan Tambang Dipasang di Talut Dermaga Belo Laut: Ini Cara Menciptakan “Benteng Moral” Menjaga Laut Mentok

Sebarkan artikel ini

MENTOK,  Berita5.co.id — Di sebuah pesisir yang setiap harinya menampung genggam-genggam harapan nelayan kecil, hari Jumat (7/11/2025) di Desa Belo Laut bukan hanya tentang memasang spanduk. Ia adalah hari di mana masyarakat pesisir Mentok menyatakan garis batas moral. Hari di mana garis pantai dijaga bukan dengan undang-undang di atas kertas, tapi dengan tangan warga sendiri yang mengikat tali spanduk ke pohon kelapa.

Spanduk putih selebar hampir tiga meter itu terbentang di antara dua batang kelapa, seolah menjadi pagar moral di ujung dunia. Panas Mentok yang mengeringkan kulit tidak mampu menghalangi warga berdiri tegak. Di sisi kiri spanduk, seorang pria dengan pakaian bercorak militer berdiri mengawasi. Di sisi kanan, seorang pria paro baya tanpa baju ikut menyaksikan proses pemasangan itu. Di dekat kaki mereka, sepeda motor, karung, dan beberapa alat seadanya ikut menjadi saksi bahwa ini bukan seremoni. Ini adalah aksi nyata.

“Kalau laut rusak, kami mau cari ikan di mana? Nelayan kecil ini bukan pengumpul uang. Kami cuma ingin hidup normal. Jadi kami dukung penuh larangan tambang di sini,” ujar salah satu warga yang ikut memegang ujung spanduk.

Di Belo Laut, semua orang tahu yang merayap di pantai bukan hanya ombak. Tapi juga ancaman tambang timah ilegal yang terus mencoba masuk, terutama tambang jenis ponton atau TI apung kecil yang sering tiba-tiba muncul seperti bayangan di atas air.

Pemasangan spanduk larangan tambang ini dilakukan sebagai inisiatif bersama Aparat Penegak Hukum (APH), Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat Belo Laut. Mereka sepakat: talut dermaga yang melindungi pantai dari gempuran arus gelombang bukan boleh disentuh. Talut bukan hanya beton. Talut adalah benteng hidup.

Babinsa Desa Belo Laut menegaskan:

“Kita tidak cuma bicara soal tambang ilegal. Kita bicara soal keruntuhan lingkungan. Kalau talut ini sampai rusak karena tanahnya diambil-ambil, itu bukan lagi kerugian negara, itu bencana sosial.”

Kalimat itu menggema di kepala siapa pun yang hadir. Karena masyarakat sudah melihat sendiri bagaimana tambang ponton kecil bisa menggerus sedikit demi sedikit fondasi tanah. Mungkin tidak terlihat dalam satu hari. Tapi setahun cukup untuk mengubah garis pantai.

Hampir semua nelayan di Belo Laut punya memori luka kecil yang sama yaitu pasir yang turun, air yang maju, dan perahu yang makin sulit sandar. Di antara mereka ada nelayan tua berusia lebih dari 50 tahun yang menyaksikan bagaimana laut Belo Laut berubah selama 20 tahun terakhir.

“Dulu tidak seperti ini. Air dulu lebih mundur. Sekarang sudah dekat ke darat. Sedikit lagi, dermaga ini tinggal nama,” katanya pelan.

Kata pelan itu adalah kalimat paling keras dari seluruh aksi hari itu.

Sebab masyarakat tak hanya takut talut runtuh. Mereka jauh lebih takut sesuatu yang tidak tertulis dalam undang-undang: hilangnya masa depan.

Seorang pemuda Belo Laut usia 21 tahun mengaku takut. Bukan karena aparat. Bukan karena preman pengepul timah. Tapi takut pada satu hal yaitu l ia membayangkan anaknya nanti tidak lagi mengenal laut biru Belo Laut. Ia hanya mengenal sungai keruh sisa tambang.

“Aku takut generasi masa depan tidak lagi kenal laut. Yang mereka tahu nanti cuma keruh tambang,” ujarnya.

Ketakutan itu bukan ketakutan personal. Ia adalah ketakutan kolektif.

Ada seorang ibu di pinggir pantai yang ikut menyaksikan pemasangan spanduk itu. Suaminya adalah nelayan. Setiap pagi, ia mengantar suaminya melaut, mendorong kapal dengan kedua tangan, memastikan kapal itu bergerak perlahan meninggalkan garis pasir. Ia tidak bicara banyak. Tapi saat ditanya: apa yang paling ditakutkannya? Ia menjawab pendek: “Kalau talut runtuh, suami saya mau sandar di mana?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!