Oleh: Bangdoi Ahada
OPINI, Berita5.co.id –– Di tengah semakin tingginya harapan masyarakat terhadap hadirnya pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat, nama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menghadirkan sebuah gambaran tentang bagaimana kepemimpinan seharusnya dijalankan.
Bukan sekadar memimpin dari balik meja, melainkan hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung suara mereka, memahami persoalan yang dihadapi, lalu bergerak mencari jalan keluarnya.
Bagi Sherly, perjalanan ke desa-desa, pesisir, sekolah, puskesmas, hingga lahan pertanian bukanlah agenda seremonial dan menggunting pita.
Turun ke lapangan adalah cara terbaik untuk mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Dari sanalah lahir data yang paling jujur, data yang tidak hanya berisi angka, tetapi juga cerita tentang harapan, kesulitan, dan kebutuhan masyarakat.
Ketika bertemu nelayan yang mengeluhkan hasil tangkapan, petani yang menghadapi persoalan irigasi, tenaga kesehatan yang membutuhkan fasilitas lebih baik, atau siswa yang memerlukan ruang belajar yang layak, Sherly memilih untuk tidak berhenti pada mendengar.
Ia memverifikasi langsung persoalan itu, lalu menggerakkan perangkat pemerintah agar solusi dapat segera diwujudkan.
Tidak sedikit persoalan yang dapat diselesaikan saat itu juga karena keputusan diambil berdasarkan fakta yang ia lihat sendiri.
Cara kerja seperti inilah yang membuat kebijakan pemerintah menjadi lebih tepat sasaran.
Sebab program pembangunan sejatinya bukan lahir dari ruang rapat semata, melainkan dari denyut kehidupan masyarakat.
Pemerintah hanya akan mampu menjawab kebutuhan rakyat apabila lebih dulu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat.
Di berbagai daerah, tidak sedikit kepala daerah yang kesulitan menemukan akar persoalan masyarakatnya sendiri.
Apalagi mampu bergerak cepat menyelesaikannya. Karena itu, kepemimpinan yang mengedepankan kehadiran langsung di tengah masyarakat menjadi sesuatu yang bernilai.
Tantangan yang dihadapi Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga tidak ringan. Defisit anggaran menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
Namun kondisi tersebut tidak dijadikan alasan untuk berhenti bekerja atau mengeluh.












