Berita

Sarbudiono Yakini Edukasi Child Grooming Didorong Masuk Sekolah di Bangka Barat

46
×

Sarbudiono Yakini Edukasi Child Grooming Didorong Masuk Sekolah di Bangka Barat

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

MENTOK, Berita5.co.id  — Kekerasan seksual terhadap anak jarang datang dengan wajah bengis. Ia tidak selalu dimulai dengan paksaan, ancaman atau kekerasan fisik.

Dalam banyak kasus, ia justru hadir sebagai perhatian, kepedulian dan kedekatan emosional yang terasa aman.

Di titik inilah child grooming bekerja senyap, sistematis dan perlahan menghancurkan batas aman anak tanpa disadari korban.

Fenomena ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APKB) Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., menegaskan bahwa edukasi adalah satu-satunya cara paling rasional dan berkelanjutan untuk menghentikan kejahatan ini sebelum anak menjadi korban.

“Child grooming adalah kejahatan psikologis. Pelaku tidak menyerang, tapi menanamkan rasa percaya. Anak dibuat merasa aman, istimewa, bahkan bergantung. Ketika itu terjadi, anak sudah masuk dalam perangkap,” ujar Sarbudiono saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (27/01/2026).

Berbagai kajian perlindungan anak menyebut child grooming sebagai proses manipulasi berlapis. Pelaku membangun relasi emosional melalui pujian, hadiah, perhatian intens, hingga janji perlindungan. Perlahan, batas wajar disentuh dan dinormalisasi baik secara fisik maupun verbal.

UNICEF Indonesia menegaskan bahwa grooming merupakan gerbang utama kekerasan seksual terhadap anak, baik di ruang nyata maupun digital.

Sarbudiono menyebut temuan ini selaras dengan pola kasus yang kerap muncul di daerah.

“Banyak pelaku adalah orang yang dikenal korban. Lingkungan terdekat, figur otoritas, bahkan orang yang dianggap baik. Ini yang membuat grooming sangat berbahaya,” tegasnya.

Bagaimana anak terjebak grooming, dengan ilustrasi kasus fiktif:

Sebut saja A, siswa sekolah dasar. Ia dikenal pendiam dan jarang bercerita di rumah. Di lingkungannya, ada seorang dewasa yang kerap memberinya perhatian membelikan jajanan, mendengarkan keluh kesah dan memberi pujian. Awalnya tidak ada yang tampak janggal.

Perhatian itu berubah menjadi pesan pribadi. Dari obrolan ringan, bergeser ke permintaan rahasia.

Pelaku mulai mengatakan, “Ini hanya untuk kita berdua.”

Ketika sentuhan mulai terjadi, A sudah terlalu takut dan bingung untuk melapor. Ia percaya, tapi juga terjebak.

Inilah pola klasik child grooming: kedekatan emosional lebih dulu, pelanggaran batas kemudian. Anak tidak sadar bahwa yang ia alami adalah kekerasan.

Merujuk pedoman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA RI), edukasi perlindungan diri sejak usia dini menjadi kunci pencegahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!