Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berits5.co.id — Masa depan sebuah daerah tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan. Kadang, ia tumbuh diam-diam dari ruang kelas, dari cara seorang anak memahami dirinya, keluarganya, lingkungan, hingga pilihan hidup yang akan menentukan generasi berikutnya.
Gagasan itulah yang coba dibawa Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., ketika hadir dalam kegiatan visitasi dan validasi data Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di SMP Negeri 3 Mentok, Senin, 10 Agustus 2026.
SMP Negeri 3 Mentok dipilih mewakili jenjang SMP Kabupaten Bangka Barat dalam penilaian SSK tingkat nasional. Sekolah tersebut tengah diusulkan mencapai tingkat paripurna, jenjang tertinggi dalam SSK, setelah sebelumnya memiliki rekam prestasi di tingkat provinsi.
Bagi Sarbudiono, capaian itu bukan semata tentang memenangkan sebuah penilaian.
Lebih jauh, SSK merupakan cara menanamkan kesadaran kependudukan sejak usia sekolah mempersiapkan remaja agar kelak tumbuh menjadi manusia yang tangguh, cerdas, sehat, berkualitas, sekaligus mampu membangun keluarga dengan perencanaan yang matang.
“SSK ini menjadi barometer pembangunan keluarga melalui jenjang pendidikan. Peserta didik adalah generasi muda yang akan menjadi sumber daya pembangunan manusia dan tonggak estafet pembangunan bangsa,” ujar Sarbudiono, Selasa (11/8/2026).
Di titik inilah pandangan Sarbudiono tentang pendidikan menjadi lebih luas. Sekolah tidak berhenti sebagai tempat mengejar nilai. Sekolah juga menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran tentang kehidupan.
Pengetahuan kependudukan, menurut dia, dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan aktivitas siswa. Mulai dari sosiologi, biologi, bahasa hingga pendidikan agama. Pesan yang sama juga dapat tumbuh melalui kegiatan Pramuka, OSIS, PIK-R, drumband, remaja masjid, Genre dan berbagai aktivitas positif lainnya.
Dengan demikian, waktu anak-anak tidak sekadar diisi dengan rutinitas akademik, tetapi juga dengan pengalaman yang membentuk karakter dan cara pandang mereka terhadap masa depan.
“Semua waktu remaja dan peserta didik diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, menambah wawasan dan mempersiapkan mereka menjadi bagian dari keluarga yang tangguh,” katanya.
Bagi Sarbudiono, pesan tentang keluarga bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Ia berangkat dari pengalaman panjangnya di dunia pendidikan dan birokrasi. Sebelum menduduki jabatan sebagai Kepala DP3AP2KB Bangka Barat, ia pernah bersentuhan langsung dengan dunia sekolah, termasuk menjadi guru di SMP Negeri 3 Mentok.
Ada hubungan emosional yang membuat kunjungannya ke sekolah tersebut terasa berbeda.
Sarbudiono mengungkapkan, dirinya pernah ditempatkan di SMP Negeri 3 Mentok setelah mutasi dari Palembang. Selama sekitar empat tahun, sekolah itu menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Karena itu, ketika memberikan apresiasi kepada keluarga besar SMP Negeri 3 Mentok, ia tidak hanya berbicara sebagai seorang pejabat pemerintah.
Ia berbicara sebagai seseorang yang pernah berdiri di dalam lingkungan sekolah tersebut.
“Saya ini alumni dari sini, bukan alumni siswa, tetapi alumni guru. Pertama kali saya mutasi dari Palembang, saya ditempatkan di SMK Negeri 3 Mentok. Empat tahun saya di sini,” tuturnya.
Perjalanan karier Sarbudiono kemudian membawanya ke berbagai ruang pengabdian. Dari kepala sekolah, pengawas, hingga menduduki jabatan di lingkungan pemerintahan dengan bidang yang berbeda-beda.
Perpindahan itu justru memberinya satu pelajaran pentingnjangan pernah berhenti belajar.
“Belajar itu tidak harus dengan orang yang lebih tua. Kadang-kadang dengan yang lebih muda, ketika dia punya ilmu, kita belajar. Tidak apa-apa. Kita harus belajar,” ujarnya.
Kalimat itu menjadi salah satu pesan personal yang kuat dari Sarbudiono. Di tengah birokrasi yang kerap identik dengan jabatan dan kewenangan, ia menempatkan kemauan belajar sebagai modal utama seorang aparatur.
Baginya, berpindah bidang bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Justru setiap ruang baru memberikan kesempatan untuk memahami persoalan dari sudut pandang berbeda.
Dalam konteks SSK, pengalaman tersebut menemukan relevansinya.
Pembangunan keluarga tidak dimulai ketika seseorang telah menikah. Kesadaran itu justru perlu ditanamkan jauh sebelumnya ketika seseorang masih menjadi pelajar, ketika ia sedang belajar mengenal dirinya, memahami lingkungan dan mulai menentukan masa depan.
Karena itu, Sarbudiono mendorong agar SSK tidak dipandang hanya sebagai program perlombaan sekolah.
SSK harus menjadi gerakan pendidikan.
Sekolah menjadi tempat bertemunya pengetahuan, karakter, kesehatan, perencanaan masa depan, kesadaran kependudukan dan pembentukan keluarga berkualitas.
“Harapan kita nantinya keluarga-keluarga yang ada di Bangka Barat menjadi keluarga yang berkualitas,” kata Sarbudiono.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperluas kolaborasi. Menurutnya, pembangunan keluarga terlalu besar jika hanya dibebankan kepada sekolah atau satu perangkat daerah.












