Bangka BaratHukumLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPariwisataPenambangan

Saat Mesin Tambang Menggerus Mangrove Tempilang: Sungkur dan Tradisi Nelayan di Ujung Ancaman

×

Saat Mesin Tambang Menggerus Mangrove Tempilang: Sungkur dan Tradisi Nelayan di Ujung Ancaman

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Mangrove semestinya menjadi benteng terakhir pesisir Tempilang. Akarnya menahan lumpur, batangnya menjadi tempat biota berlindung, sementara perairan di sekitarnya menjadi ruang hidup nelayan yang menggantungkan penghasilan dari laut.

Namun hasil penelusuran lapangan pada Rabu (26/8/2026) menunjukkan wajah berbeda.

Di kawasan pesisir Tempilang, jejak aktivitas penambangan timah ilegal ditemukan bersinggungan dengan kawasan mangrove. Aktivitas pengerukan meninggalkan perubahan pada bentang pesisir dan merusak vegetasi yang selama ini menjadi pelindung alami pantai.

Yang lebih mengkhawatirkan, aktivitas tersebut tidak berhenti ketika matahari tenggelam.

Aktivitas tambang juga dikerjakan pada malam hari.

Ketika sebagian warga mulai beristirahat, suara mesin justru masih terdengar dari kawasan yang seharusnya menjadi ruang perlindungan ekosistem.

Gelap malam seolah menjadi selimut bagi pengerukan.

Di bawah cahaya lampu kerja, tanah dan lumpur dikeruk. Kawasan yang semestinya menjadi habitat biota pesisir berubah menjadi ruang aktivitas pertambangan.

Jika praktik tersebut benar berlangsung tanpa izin, maka ini bukan sekadar persoalan tambang ilegal.

Ini persoalan tentang siapa yang berhak menghancurkan ruang hidup masyarakat.

Ironi itu terasa semakin keras.

Di berbagai daerah, pemerintah mengampanyekan rehabilitasi mangrove. Ribuan bibit ditanam. Masyarakat diajak menjaga pesisir. Mangrove disebut sebagai benteng menghadapi abrasi dan perubahan iklim.

Tetapi di Tempilang, mangrove yang sudah tumbuh justru berhadapan dengan pengerukan.

Di satu tempat, bibit ditanam.

Di tempat lain, mangrove yang sudah puluhan tahun hidup justru terancam hilang.

Lalu apa arti rehabilitasi jika kerusakan dibiarkan terus berlangsung?.

Pertanyaan itu patut diajukan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.

Sebab menghitung bibit mangrove yang ditanam jauh lebih mudah daripada menghitung kerugian ekologis akibat mangrove yang dihancurkan.

Menanam satu pohon mungkin membutuhkan beberapa menit.

Tetapi membentuk ekosistem mangrove membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Karena itu, membiarkan kawasan mangrove dihancurkan demi mengambil timah adalah bentuk kebijakan yang terbalik bahwa negara berbicara tentang pemulihan, sementara di lapangan kerusakan justru terus diproduksi.

Kerusakan mangrove tidak berhenti pada hilangnya batang pohon.

Akar mangrove merupakan tempat berbagai organisme mencari makan dan berlindung. Kawasan pesisir yang terganggu akan memengaruhi rantai kehidupan yang selama ini menopang aktivitas nelayan.

Di Tempilang, dampaknya kemudian bersentuhan langsung dengan tradisi Sungkur.

Ali (56), nelayan yang telah puluhan tahun menggunakan sungkur untuk menangkap udang rebon, merasakan perubahan tersebut.

Sungkur bukan alat modern.

Hanya sebatang kayu panjang dengan jaring berbentuk segitiga pada ujungnya.

Tetapi alat sederhana itu menyimpan pengetahuan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Nelayan mengetahui kapan rebon muncul.

Mereka membaca arah angin.

Mereka memahami pasang surut.

Mereka mengenali karakter lumpur dan warna air.

Semua pengetahuan itu diperoleh dari laut.

Kini ruang belajar tersebut perlahan berubah.

“Kalau tempat rebonnya rusak, sungkur mau dibawa ke mana?” ujar Ali.

Kalimat itu menjadi salah satu gambaran paling sederhana tentang bagaimana kerusakan lingkungan dapat mengancam kebudayaan.

Sungkur Tidak Bisa Hidup Tanpa Mangrove

Tradisi tidak lahir di ruang kosong.

Sungkur tumbuh karena ada ekosistem yang menopangnya.

Ada laut dangkal.

Ada lumpur.

Ada rebon.

Ada mangrove.

Ada nelayan yang menjaga pengetahuan tersebut.

Ketika satu mata rantai rusak, mata rantai lainnya ikut terancam.

Karena itu, menghancurkan kawasan mangrove bukan hanya menghancurkan vegetasi.

Ia juga berpotensi menghancurkan pengetahuan lokal yang melekat pada kawasan tersebut.

Jika rebon semakin sulit ditemukan, nelayan akan semakin jarang menggunakan sungkur.

Jika nelayan semakin jarang menggunakan sungkur, anak-anak muda semakin tidak mengenal tekniknya.

Dan ketika satu generasi berhenti belajar, tradisi itu dapat mati tanpa pernah ada upacara pemakaman.

Itulah tragedi yang jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya satu jenis alat tangkap.

Temuan aktivitas pada malam hari juga memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan.

Jika mesin tambang dapat beroperasi ketika malam telah turun, bagaimana pengawasan kawasan tersebut dilakukan?

Siapa yang melihat?

Siapa yang mengetahui?

Paling penting, siapa yang menghentikan?.

Pertanyaan ini tidak boleh berhenti sebagai retorika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!