Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di tengah suasana duka, sebuah tempat bukan sekadar dibutuhkan untuk menaungi prosesi terakhir. Ia juga menjadi ruang untuk keluarga menguatkan hati, memberikan penghormatan kepada orang yang telah pergi, sekaligus menjaga tradisi tetap hidup.
Semangat itulah yang mewarnai peresmian Rumah Duka Tenang Desa Air Kuang, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (20/9/2026).
Rumah duka yang berada di kawasan Perkuburan Tionghoa Tenang tersebut diresmikan Bupati Bangka Barat Markus, SH. Kehadirannya diharapkan menjadi tempat yang layak, bersih dan tenang bagi masyarakat Tionghoa di Air Kuang dan sekitarnya dalam melaksanakan prosesi kedukaan.
Dalam sambutannya, Markus menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Amal Mulia Bakti MAKIN Parittiga Jebus, panitia, serta seluruh pihak yang telah bergotong royong mewujudkan fasilitas tersebut.
Menurut Markus, pembangunan Rumah Duka Tenang tidak semata-mata berbicara mengenai berdirinya sebuah bangunan.
“Pembangunan rumah duka ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi wujud nyata dari nilai kebersamaan, gotong royong, dan toleransi yang selama ini hidup rukun di Bumi Sejiran Setason,” ujar Markus.
Ia menegaskan, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bangka Barat.
“Di Bangka Barat, kita tidak melihat suku, agama, dan ras. Kita adalah satu keluarga besar. Tionghoa, Melayu, Jawa, semua adalah bagian dari Bangka Barat,” katanya.
Bagi masyarakat Tionghoa, penghormatan terhadap leluhur dan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal memiliki nilai sakral. Karena itu, menurut Markus, keberadaan rumah duka dapat memberikan manfaat langsung bagi keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.
Setidaknya terdapat tiga manfaat yang ia soroti.
Pertama, masyarakat Tionghoa di Air Kuang dan sekitarnya kini memiliki tempat yang layak, bersih dan tenang untuk menjalankan prosesi duka.
Kedua, fasilitas tersebut dapat membantu meringankan beban keluarga. Mereka tidak lagi harus kebingungan mencari tempat ketika menghadapi peristiwa kedukaan.












