Berita

Pulau Bangka Bukan Untuk Nuklir: Penolakan Massal Warga Bangka Hadang Ambisi PLTN Thorcon

72
×

Pulau Bangka Bukan Untuk Nuklir: Penolakan Massal Warga Bangka Hadang Ambisi PLTN Thorcon

Sebarkan artikel ini

Editor: Bangdoi Ahada

BANGKA, Berita5.co.id — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Bangka kian menyeret polemik serius.

Proyek yang digadang-gadang sebagai lompatan menuju energi bersih itu justru memunculkan pertanyaan mendasar, layakkah Pulau Bangka —pulau kecil dengan ekosistem rapuh dan ekonomi berbasis laut— menjadi tapak nuklir pertama Indonesia?

Di balik narasi transisi energi, media ini menemukan serangkaian persoalan yang belum terjawab tuntas, diantaranya rekam jejak pengembang yang minim pengalaman operasional, spesifikasi teknologi yang belum teruji secara komersial, hingga penolakan masyarakat yang meluas.

Pulau Kecil, Risiko Besar

Pulau Bangka bukan kawasan kosong. Ia dihuni jutaan orang, menopang ekonomi dari perikanan, pariwisata bahari, dan komoditas rempah.

Rencana PLTN Thorcon yang ditempatkan di wilayah pesisir Pulau Gelasa dinilai sejak awal menyimpan kerentanan ekologis.

Nelayan dan pegiat lingkungan menyoroti pembuangan air pendingin reaktor ke laut.

Praktik ini, meski lazim dalam PLTN, berpotensi meningkatkan suhu perairan dan mengganggu rantai makanan laut dari plankton hingga ikan konsumsi.

“Kalau laut rusak, selesai sudah. Kami hidup dari laut,” kata seorang nelayan Bangka Tengah yang ditemui media ini.

Kajian dampak jangka panjang terhadap terumbu karang dan daerah tangkap nelayan hingga kini belum dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat.

Limbah Nuklir dan Warisan Risiko

Persoalan lain yang menghantui warga adalah limbah radioaktif.

Limbah nuklir berumur bahaya sangat panjang, ratusan hingga ribuan tahun. Hingga kini, belum ada kejelasan di mana dan bagaimana limbah tersebut akan disimpan secara permanen.

“Kami takut daerah kami jadi tempat buangan. Anak-cucu kami yang menanggung,” ujar warga Desa Beriga.

Kekhawatiran ini diperparah oleh fakta bahwa Indonesia belum memiliki fasilitas penyimpanan limbah nuklir tingkat tinggi yang beroperasi penuh.

Belajar dari Tragedi Global

Pemerintah dan pengembang berulang kali menegaskan teknologi nuklir generasi baru lebih aman.

Namun sejarah mencatat sebaliknya: Chernobyl (1986), Fukushima (2011), hingga Three Mile Island (1979) menunjukkan bahwa kecelakaan nuklir tetap mungkin terjadi, baik akibat faktor alam, kegagalan sistem, maupun kesalahan manusia.

Fukushima, yang terjadi di negara dengan teknologi dan disiplin tinggi seperti Jepang, menjadi rujukan utama penolakan warga Bangka.

“Kalau Jepang saja bisa kecolongan, apa jaminannya di sini?” kata seorang tokoh masyarakat Bangka Tengah.

Pulau Bangka sendiri berada di kawasan rawan banjir pesisir dan perubahan iklim ekstrem, faktor yang jarang dibicarakan dalam sosialisasi resmi proyek.

Thorcon: Teknologi Hanya di Atas Kertas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *