“Prioritas kita adalah pemain lokal. Kita tidak mencari pemain dari luar daerah. Anak-anak Bangka Barat sendiri yang harus menjadi kekuatan utama,” tegasnya.
Prinsip yang sama juga diterapkan dalam pemilihan pelatih. PSSI Bangka Barat mempercayakan posisi pelatih kepada putra daerah yang memahami karakter pemain dan kultur sepak bola lokal.
Untuk memastikan proses seleksi berjalan objektif, PSSI Bangka Barat telah menunjuk tim seleksi resmi yang terdiri dari tiga orang.
Abu Hanifah dipercaya sebagai ketua tim seleksi, didampingi oleh Iwan dan Heri sebagai anggota.
Mereka bertugas menilai kemampuan, mental, serta potensi para pemain yang nantinya akan menjadi tulang punggung tim Bangka Barat.
Di balik semua proses itu, Allani menyadari bahwa membangun sepak bola daerah bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kekompakan organisasi, kerja keras tim, serta kepercayaan dari masyarakat.
Karena itu, ia menyampaikan pesan yang ia sebut sebagai semangat “BERGEMA” bagi seluruh keluarga besar PSSI Bangka Barat.
BERGEMA, menurut Allani, bukan sekadar slogan. Ia adalah singkatan dari Bergerak, Bersatu dan Bergerak Maju.
“Saya berharap seluruh tim PSSI Bangka Barat bisa BERGEMA. Kita harus bergerak bersama, bersatu, dan terus bergerak maju,” katanya.
Bagi banyak anak muda di Bangka Barat, sepak bola adalah lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah mimpi, jalan menuju masa depan, dan ruang untuk membuktikan bahwa talenta daerah mampu bersinar.
Kini, di bawah kepemimpinan Allani, PSSI Bangka Barat mencoba menyalakan kembali mimpi itu. Mimpi tentang stadion yang bergemuruh oleh dukungan warga, tentang pemain lokal yang berdiri bangga membawa nama daerah dan tentang satu tujuan besar yang mulai diucapkan dengan penuh keyakinan untuk Bangka Barat harus juara di Porprov. (tras)
Sumber: Rilis Humas PSSI Bangka Barat












