Bangka BaratEdukasiLifestyleLokalNewsPendidikan

PMI Bangka Barat Bangun Kekuatan Kemanusiaan dari Budaya Donor Darah

×

PMI Bangka Barat Bangun Kekuatan Kemanusiaan dari Budaya Donor Darah

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Guntur

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Setetes darah mungkin hanya tampak sebagai bagian kecil dari tubuh manusia. Namun bagi seseorang yang sedang berada di ruang operasi, mengalami kecelakaan, melahirkan dengan komplikasi, atau menjalani perawatan tertentu, setetes darah dapat berubah menjadi batas antara harapan dan kehilangan.

Di situlah kerja kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) menemukan maknanya.

Bukan sekadar mengumpulkan darah, PMI membangun sebuah ekosistem kerelawanan yang mempertemukan orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal dalam satu ikatan sederhan dalam membantu manusia lain yang membutuhkan.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi PMI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama PMI Kabupaten Bangka Barat di Kantor PMI Bangka Barat, dalam rangka pemberian penghargaan kepada para pendonor darah sukarela yang telah mendonorkan darahnya hingga puluhan kali.

Ketua PMI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Abdul Fatah mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya menjadi momentum penghargaan bagi para pendonor, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat semangat kepalangmerahan di tingkat daerah.

Menurut dia, penghargaan kepada pendonor yang telah mencapai 20 hingga 50 kali donor merupakan bentuk apresiasi terhadap kesukarelaan masyarakat dalam menjaga ketersediaan darah.

“Pada hari ini merupakan silaturahmi daripada PMI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan PMI kabupaten, yang agendanya adalah pemberian penghargaan kepada pendonor darah yang sudah 50 kali dan juga sudah 20 kali,” kata Abdul Fatah, Selasa (22/9/2026) di Kantor PMI Bangka Barat.

Bagi PMI, kata dia, donor darah tidak berhenti pada aktivitas medis. Di dalamnya terdapat nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi gerakan Palang Merah di seluruh dunia.

Abdul Fatah mengingatkan kembali prinsip yang menjadi roh gerakan kepalangmerahan, yakni bahwa manusia harus dipandang sebagai manusia, terlepas dari latar belakang maupun posisi mereka.

“Kita semua bersaudara. Kita tidak membeda-bedakan mana lawan ataupun bukan lawan, tapi kita semuanya sama,” ujarnya.

Prinsip tersebut menjadi penting ketika PMI berhadapan dengan situasi kemanusiaan. Dalam kondisi bencana maupun konflik, misalnya, pertolongan tidak boleh diberikan berdasarkan identitas seseorang.

PMI, kata Abdul Fatah, harus berdiri di atas berbagai perbedaan.

“Kalau misalnya kita memberikan suatu bantuan kemanusiaan, kita tidak perlu lagi bertanya kau dari pihak yang mana. Yang perlu kita lakukan adalah di depan kita ada manusia yang membutuhkan pertolongan,” katanya.

Dalam konteks pembangunan PMI Bangka Barat, prinsip tersebut dapat diterjemahkan melalui penguatan budaya donor darah.

Pendonor yang menerima penghargaan bukan hanya membawa catatan jumlah donor. Mereka membawa cerita tentang waktu yang disisihkan, tubuh yang secara sukarela memberikan sebagian darahnya, serta keputusan untuk membantu orang yang bahkan mungkin tidak pernah mereka temui.

Di sinilah donor darah menjadi lebih dari sekadar agenda rutin.

Ia menjadi ruang perjumpaan sosial.

Seseorang datang ke PMI tanpa mengetahui siapa penerima darahnya. Darah itu kemudian bergerak melalui sistem pelayanan transfusi dan pada suatu ketika dapat sampai kepada seorang pasien yang namanya tidak pernah dikenal pendonor.

Hubungan tersebut tidak membutuhkan perkenalan.

Kemanusiaan bekerja melalui kesukarelaan.

Karena itu, pengembangan PMI di daerah tidak hanya dapat diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan organisasi membangun kepercayaan masyarakat agar mau menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan secara berkelanjutan.

Abdul Fatah mengatakan optimalisasi donor darah merupakan salah satu misi penting PMI.

“Yang ketiga adalah mengoptimalisasi pelaksanaan donor darah dengan melakukan intervensi-intervensi motivasi, mengajak para pendonor darah untuk bersama-sama kita memberikan darah kita kepada kawan-kawan yang membutuhkan,” tuturnya.

Pembangunan organisasi PMI juga tidak dapat dipisahkan dari kekuatan relawan.

Abdul Fatah menyebut peningkatan kapasitas relawan dan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan kepalangmerahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!