Penulis: Zilimon
Editor: Bangdoi Ahada
PANGKALPINANG, Berita5.co.id — Sebuah rapat yang awalnya dijadwalkan rutin di ruang Badan Musyawarah DPRD Babel, Senin (10/11/2025), berubah menjadi forum panas.
Para wakil rakyat, aktivis lingkungan, dan warga pesisir Batu Beriga menyoroti satu hal yang dianggap tak masuk akal: rencana pembangunan reaktor nuklir di sebuah pulau kecil yang selama ini jadi tumpuan hidup nelayan.
Pulau Gelasa (Kelasa–red), sebuah pulau tropis di Bangka Tengah yang selama ini dikenal karena pasir putih dan hasil lautnya, tiba-tiba masuk radar perusahaan energi yang disebut-sebut tengah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Namun yang membuat situasi semakin janggal, menurut DPRD, aktivitas perusahaan di pulau itu sudah berlangsung lama tanpa izin lengkap.
Aktivitas Tanpa Izin, Proyek Jalan Diam-Diam
Wakil Ketua DPRD Babel Eddy Iskandar menegaskan, pihaknya menemukan indikasi kegiatan perusahaan di Pulau Gelasa sebelum regulasi dan kajian lingkungan disetujui.
“Belum ada perizinan apa-apa di sana. Mereka sudah melakukan aktivitas dalam rangka melihat kelayakan tempat. Tapi kita ingin tahu, dasar dan kelayakan itu mereka dapat dari mana?” ujar Eddy kepada wartawan dengan nada heran.
Eddy menambahkan, DPRD tengah menelusuri Memorandum of Understanding (MoU) antara perusahaan dengan pemerintah provinsi terdahulu — dokumen yang diduga membuka jalan bagi proyek ini.
Pertanyaannya, mengapa Pulau Gelasa yang ditetapkan sebagai kawasan tangkap nelayan dan pariwisata bisa tiba-tiba ditunjuk sebagai lokasi reaktor nuklir?
Teknologi Belum Terbukti, Masyarakat Cemas
Menurut Eddy, teknologi reaktor yang direncanakan menggunakan sistem garam cair (molten salt reactor) — jenis reaktor eksperimental yang masih dalam tahap uji coba di beberapa negara.
“Teknologi itu belum terbukti di dunia. Masih bentuk uji coba,” katanya.
Bagi warga, pernyataan itu menambah ketakutan. Warga Batu Beriga yang hadir di rapat mengatakan, mereka tidak pernah diajak bicara tentang rencana tersebut, bahkan baru mengetahui kabar pembangunan PLTN dari media sosial.
“Kami datang bukan karena dipanggil, tapi karena resah,” kata salah satu perwakilan warga.












