Bangka BaratLokalNewsPendidikan

Perpustakaan Bangka Barat Menulis Masa Depan: Dari Budaya Membaca hingga Menjaga Pengetahuan Lokal

72
×

Perpustakaan Bangka Barat Menulis Masa Depan: Dari Budaya Membaca hingga Menjaga Pengetahuan Lokal

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak buku dan aroma khas lembaran pengetahuan, sebuah pertanyaan sederhana mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Perubahan Standar Pelayanan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat, Kamis (25/6/2026).

Bukan sekadar bagaimana masyarakat meminjam buku, melainkan bagaimana perpustakaan mampu membentuk generasi yang gemar membaca, melahirkan penulis baru dan menyelamatkan pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Pertanyaan itulah yang menjadi ruh dari FGD yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bangka Barat di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat.

Melalui forum yang melibatkan pengelola perpustakaan desa, akademisi, pegiat literasi, media massa, organisasi masyarakat sipil hingga pengguna layanan, DPK Bangka Barat menetapkan perubahan standar pelayanan perpustakaan yang menjadi pijakan baru dalam pengembangan literasi daerah.

Hasilnya, jumlah layanan Perpustakaan Daerah Bangka Barat bertambah dari 7 menjadi 12 jenis layanan.

Penambahan tersebut meliputi pelayanan keanggotaan, sirkulasi, peminjaman koleksi referensi dan koleksi umum untuk baca di tempat, penelusuran informasi perpustakaan, pelayanan anak, pelayanan kelompok rentan, bimbingan pemustaka, perpustakaan keliling, penggunaan fasilitas internet, literasi informasi, peminjaman buku dengan pihak lain, hingga peminjaman ruangan perpustakaan kepada pihak lain.

Pustakawan Madya DPK Bangka Barat, Elly Sri Darma Putri Ningrum, S.Ikom., menjelaskan bahwa perubahan standar pelayanan dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan kebutuhan masyarakat serta menindaklanjuti rekomendasi hasil akreditasi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

“Standar pelayanan merupakan komitmen penyelenggara layanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, penyusunannya harus melibatkan berbagai unsur masyarakat agar layanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna,” ujar Elly.

Baginya, standar pelayanan bukan sekadar dokumen administratif, melainkan janji yang harus diwujudkan agar masyarakat mendapatkan layanan yang semakin berkualitas, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Bangka Barat, Eka Octawianto, S.T., M.AP., menegaskan bahwa perpustakaan saat ini dituntut untuk bertransformasi menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang inklusif dan adaptif.

“Perubahan standar pelayanan ini merupakan tindak lanjut dari hasil visitasi akreditasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sekaligus bentuk komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Kami ingin memastikan bahwa seluruh layanan yang diberikan tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” katanya.

Menurut Eka, perpustakaan masa kini tidak lagi dapat dipandang sebagai tempat penyimpanan buku semata.

“Penambahan jenis layanan ini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak lagi hanya berfokus pada layanan peminjaman buku. Perpustakaan telah berkembang menjadi ruang belajar bersama, ruang literasi digital, ruang kolaborasi, hingga ruang publik yang terbuka bagi masyarakat. Karena itu, standar pelayanan juga harus terus disesuaikan dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Namun bagi para pegiat literasi yang hadir, masa depan perpustakaan sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah layanan yang tersedia, melainkan oleh seberapa besar pengaruhnya dalam membentuk budaya literasi masyarakat.

Pegiat literasi Jarono menilai kunjungan sekolah ke perpustakaan harus memiliki orientasi yang lebih kuat terhadap pembangunan budaya membaca sejak usia dini.

Menurutnya, literasi tidak boleh dipersempit hanya sebagai kemampuan membaca dan memahami cerita.

“Tujuan literasi harus lebih ditingkatkan. Literasi bukan hanya kemampuan menyimak dan memahami cerita, tetapi membentuk kebiasaan membaca sejak dini. Perpustakaan daerah harus menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!