Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pagi itu, langit Tempilang tampak cerah. Di halaman SMP Negeri 1 Tempilang, ratusan siswa kelas IX duduk berjejer rapi mengenakan seragam terbaik mereka. Sebagian tersenyum bahagia, sebagian lainnya menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
Hari itu bukan sekadar seremoni pelepasan siswa.
Hari itu menjadi hari ketika sebuah generasi menutup satu bab perjalanan hidupnya dan bersiap membuka lembaran baru menuju masa depan.
Di tengah suasana haru tersebut, Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, berdiri di hadapan para siswa, guru dan orang tua. Tidak banyak pidato yang menggelegar. Tidak ada kalimat-kalimat yang berusaha memukau. Namun setiap pesan yang disampaikan terasa dekat, sederhana dan menyentuh inti persoalan yang selama ini menjadi perhatian pemerintah daerah tentang pendidikan.
Bagi Yus Derahman, pembangunan daerah tidak dimulai dari ruang rapat pemerintahan. Tidak pula lahir dari tumpukan dokumen perencanaan pembangunan.
Pembangunan sejati dimulai dari ruang kelas.
Dari meja-meja belajar yang setiap hari ditempati anak-anak daerah untuk mengejar mimpi mereka.
“Dari ruang-ruang kelas inilah masa depan Bangka Barat sedang dipersiapkan,” ujar Yus Derahman saat menghadiri pelepasan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tempilang Tahun 2026, Rabu (3/6/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan sebuah pesan besar tentang arah pembangunan sumber daya manusia yang terus digaungkan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.
Di hadapan para siswa yang akan meninggalkan bangku SMP, Yus mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir perjalanan.
Sebaliknya, kelulusan sebagai titik awal untuk memasuki dunia yang lebih luas, lebih kompetitif dan penuh tantangan.
“Teruslah belajar, teruslah berusaha dan jangan pernah berhenti berdoa. Cita-cita besar hanya akan dicapai oleh mereka yang memiliki semangat, kerja keras dan ketekunan,” katanya.
Di barisan depan, beberapa siswa terlihat menundukkan kepala. Sebagian sibuk mengusap mata yang mulai berkaca-kaca. Tiga tahun lalu mereka datang sebagai anak-anak yang masih canggung memasuki gerbang sekolah. Kini mereka berdiri di ambang kedewasaan, bersiap menentukan arah hidup masing-masing.
Bagi banyak keluarga di Tempilang, pendidikan bukan sekadar proses akademik.
Pendidikan sebagai harapan.
Harapan agar anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Harapan agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih masa depan.
Harapan itulah yang menurut Yus harus terus dijaga bersama.
Karena itu, ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka Barat untuk terus memperkuat sektor pendidikan melalui pembangunan sarana dan prasarana sekolah, peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta perluasan akses pendidikan yang merata.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan terbaik.
Tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan hanya karena lahir di wilayah yang jauh dari pusat kota atau berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Anak-anak Bangka Barat harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Tidak boleh ada yang tertinggal karena keterbatasan akses maupun fasilitas,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi cerminan visi pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat kemajuan daerah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, pendidikan tetap menjadi sektor strategis yang menentukan kualitas masa depan Bangka Barat.
Namun Yus memahami bahwa pendidikan tidak hanya dibangun oleh pemerintah.
Di balik setiap siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan, terdapat orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah. Ada guru-guru yang setiap hari mengabdikan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendidik anak-anak bangsa.
Karena itu, dalam kesempatan tersebut, ia memberikan penghormatan khusus kepada para guru dan orang tua.
“Terima kasih kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan yang telah mendampingi anak-anak dengan dedikasi luar biasa. Terima kasih pula kepada para orang tua yang terus memberikan dukungan dan kasih sayang kepada putra-putrinya,” ujarnya.
Tepuk tangan panjang bergema di seluruh ruangan.
Banyak orang tua yang hadir tampak tersenyum bangga melihat anak-anak mereka berdiri mengenakan selempang kelulusan. Ada perjuangan panjang yang tidak terlihat dalam momen itu. Ada biaya sekolah yang harus dicukupi. Ada waktu yang dikorbankan. Ada doa-doa yang dipanjatkan setiap malam.
Semua pengorbanan itu seolah menemukan maknanya pada hari tersebut.
Bagi Yus Derahman, keberhasilan pembangunan tidak hanya dapat diukur dari panjang jalan yang dibangun atau banyaknya gedung yang berdiri.
Keberhasilan sejati ketika lahir generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak dan memiliki kemampuan bersaing di tengah perubahan zaman.
Karena itulah ia berpesan kepada para siswa agar tetap menjaga nilai-nilai moral, menghormati orang tua dan guru, serta membawa nama baik Bangka Barat ke mana pun mereka melangkah.
“Jadilah generasi yang berakhlak baik, menghormati orang tua dan guru, serta mampu membawa nama baik Bangka Barat di mana pun berada,” pesannya.
Menjelang berakhirnya acara, satu per satu siswa mulai meninggalkan kursi mereka.
Sebagian sibuk berfoto bersama teman-teman. Sebagian memeluk guru yang selama tiga tahun mendampingi perjalanan mereka. Sebagian lagi tampak termenung, seolah belum percaya bahwa masa SMP telah usai.
Di antara wajah-wajah muda itu, tersimpan ribuan mimpi yang belum menemukan bentuknya.
Mungkin suatu hari akan lahir dokter dari Tempilang yang mengabdi untuk masyarakat. Mungkin akan lahir guru yang mencerdaskan generasi berikutnya. Mungkin akan lahir pengusaha, akademisi, peneliti atau pemimpin daerah yang membawa Bangka Barat melangkah lebih jauh.
Ketika masa depan itu benar-benar tiba, sejarahnya mungkin akan kembali ditelusuri ke ruang-ruang kelas sederhana yang hari ini menjadi tempat tumbuhnya harapan.
Karena bagi Yus Derahman, pendidikan bukan sekadar program pembangunan.
Pendidikan sebagai ikhtiar panjang membangun peradaban.
Sebuah investasi yang hasilnya tidak selalu terlihat hari ini, tetapi akan menentukan wajah Bangka Barat puluhan tahun mendatang. (B5)












