Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim Investigasi
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Kamis (28/05/2026) siang di Pantai Pasir Kuning tampak seperti brosur wisata yang hidup.
Anak-anak kecil berlari mengejar ombak sambil tertawa tanpa tahu bahwa laut di depan mereka sedang diperebutkan. Remaja sibuk memburu sudut terbaik untuk swafoto senja. Pedagang ikan bakar tersenyum menawarkan sambal pedas kepada pengunjung yang datang membawa keluarga.
Pantai itu tampak damai.
Terlalu damai.
Sebab di balik suara ombak dan tawa wisatawan, para nelayan Tempilang justru sedang hidup di tengah kegelisahan yang perlahan berubah menjadi kemarahan.
Mereka melihat sesuatu yang menurut mereka bukan lagi rahasia.
Bukan lagi bisik-bisik malam.
Bukan lagi cerita samar yang hanya berani dibahas di warung kopi selepas subuh.
Tetapi sesuatu yang disebut warga sudah berlangsung terang-terangan di bawah matahari.
Perahu-perahu diduga pengangkut timah disebut keluar masuk kawasan laut DU-1545 Tempilang pada siang hari, bahkan ketika kawasan Pantai Pasir Kuning sedang ramai wisatawan.
Ironisnya, aktivitas itu seperti berlangsung biasa saja.
Seolah laut Tempilang telah kehilangan rasa takut.
“Kalau dulu sembunyi-sembunyi malam hari, sekarang siang pun jalan,” kata Ali (56), nama disamarkan, kepada tim investigasi.
Nada suaranya tidak keras.
Tetapi justru karena itulah kalimat itu terasa berat.
Wajah lelaki nelayan itu terlihat seperti potret panjang tentang pesisir Bangka yang terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang timah. Kulitnya gelap dibakar matahari. Jemarinya kasar seperti akar bakau tua. Matanya menatap laut dengan cara yang sulit dijelaskan dalam bentuk marah, takut, sekaligus pasrah.
Ia mengaku nelayan kini bukan hanya kehilangan ikan.
Mereka mulai merasa kehilangan hak hidupnya sendiri.
“Yang paling sakit itu bukan cuma laut rusak. Tapi hak nelayan seperti dihilangkan pelan-pelan.” katanya pelan.
Kalimat itu menggantung di udara pantai yang asin.
Lalu Ali mulai berbicara tentang sesuatu yang jarang dipahami wisatawan yang datang menikmati senja di Pasir Kuning.
Bahwa setiap kilogram timah yang tercatat resmi dari kawasan tambang laut DU-1545 memiliki kaitan dengan kompensasi bagi nelayan apabila laporan produksi masuk ke perusahaan PT Timah.
Artinya, ketika timah diduga keluar lewat jalur gelap, yang hilang bukan hanya mineral negara.
Tetapi juga hak masyarakat pesisir.
Hak para nelayan kecil.
Hak anak-anak mereka.
Hak dapur mereka.
Hak untuk tetap hidup dari laut yang selama ratusan tahun menjadi rumah orang Tempilang.
“Kalau masuk resmi, nelayan masih ada kompensasi. Tapi kalau keluar diam-diam seperti itu, kami cuma dapat laut keruh,” ujar Ali.
Di titik itulah persoalan timah berubah menjadi lebih dari sekadar urusan tambang.
Ia menjelma menjadi kritik telanjang tentang bagaimana kekayaan alam sering kali hanya indah di laporan, tetapi menyisakan luka di kampung-kampung pesisir.
Pantai Pasir Kuning hari ini seperti dua wajah Bangka Belitung yang berdiri berdampingan.
Di darat, baliho wisata berbicara tentang keindahan pantai dan ekonomi kreatif.
Di laut, suara mesin tambang terdengar seperti ironi yang tak pernah selesai.
Wisatawan datang mencari ketenangan.
Nelayan justru hidup bersama kecemasan.
Tim investigasi menerima berbagai kesaksian warga yang menyebut aktivitas keluar masuk perahu pengangkut timah kini bukan lagi sesuatu yang tersembunyi.












