Berita

Negeri yang Haus Pertalite: Begini Cerita Dibalik Kelangkaan BBM di Tempilang

156
×

Negeri yang Haus Pertalite: Begini Cerita Dibalik Kelangkaan BBM di Tempilang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva

TEMPILANG, Berita5.co.id — Di sebuah pagi yang semestinya sibuk, deru mesin motor tak terdengar.

Warung kopi yang biasanya penuh oleh tukang ojek dan pedagang ikan hanya menyisakan kursi kosong.

Di ujung jalan, antrean panjang kendaraan terlihat seperti ular yang kelelahan, melingkar di depan SPBU Tempilang, menunggu tetes pertalite yang tak kunjung mengalir, Minggu (16/11/2025).

“Ko tadi beli pertalite 15.000/liter di pertamini,” tulis seorang warga Tempilang melalui pesan WhatsApp kepada wartawan Bekaespedia (15/11, pukul 07.25 WIB).
“Menghilang seperti siluman di Tempilang, padahal di Simpang Yul Kelapa normal.”

Siluman. Kata itu bukan metafora kosong. Di Tempilang, pertalite memang lenyap begitu saja, tak mengikuti logika distribusi, tak mengikuti jadwal suplai SPBU, tak mengikuti pola normal kecamatan lain.

Sesuatu atau seseorang mengambilnya sebelum sampai ke masyarakat.

Dan di sinilah cerita ini dimulai: tentang mafia energi, aparat yang tahu namun membisu, SPBU yang tak berdaya, dan warga yang dipaksa membeli bensin dengan harga setara emas cair.

Kelangkaan BBM di Tempilang bukan sekadar isu harian. Ia berubah menjadi fenomena sosial.

Warga berkali-kali menyebut kejanggalan distribusi dan pola hilangnya BBM secara tiba-tiba.

Di lapangan, kelangkaan mulai terasa sejak awal minggu kedua November 2025.
Media lokal mulai menyorotinya:

KrimsusTV.online (12/11/2025) menulis bagaimana Tempilang “seolah diputus dari suplai energi”.

Penababel.com (13/11/2025) menurunkan laporan berjudul “Negeri yang Haus Pertalite”, menggambarkan kecemasan publik.

ChakraNews.my.id (13/11/2025) menunjukkan dampak yang sangat nyata: pedagang tak bisa berjualan, nelayan berhenti melaut.

Gaspar86.com (13/11/2025) menulis sebuah investigasi awal dengan tajuk yang ironis: “Energi yang Tak Pernah Sampai.”

Berita-berita itu memiliki benang merah yang sama: BBM hanya langka di Tempilang, bukan di kecamatan lain.

Mengapa?
Jawabannya muncul dari suara warga, lebih jujur dari siapa pun.

Warga Tempilang sudah lama curiga.
Melalui pesan suara dan teks yang dikirimkan ke beberapa wartawan, mereka mengungkap pola kerja yang sangat familiar di daerah tambang dan energi: pengerit – oknum SPBU – oknum aparat – pengecer pertamini – dan mafia besar yang mengambil keuntungan dari kelangkaan terstruktur.

Salah satu pesan yang paling tajam berbunyi:

“Dek beres agik aparat ngulon urang ngerit, pakai baju dinas dek malu 2 agik. Malahan banyak pengerit pakai tengki modifikasi. Lingkaran setan lah bekerja sama kek pegawai SPBU. Jek ko sak nek ngisik minyak lah dipakai urang barcode e. Parah.”

Mari kita terjemahkan:

Ada oknum aparat yang terlihat ikut mengawasi, bahkan “mengawal” para pengerit.

Ada pengerit dengan tangki modifikasi mengambil BBM dalam jumlah besar.

Barcode kendaraan warga dipakai orang lain untuk mengambil jatah BBM resmi.

Pegawai SPBU diduga ikut bermain, memastikan BBM “diarahkan” bukan ke warga, tapi ke jaringan mafia.

Dengan kata lain:
BBM bukan hilang. Ia dialihkan.

Setelah kelangkaan semakin parah, barulah pemerintah turun.
Pada 13 November 2025, Wakil Bupati Bangka Barat melakukan sidak ke SPBU Tempilang, sebagaimana dilaporkan Sekilasindonews.com.

Namun sidak itu, menurut warga, hanya seperti mengunjungi rumah yang sudah terbakar setelah apinya padam.

Warga bertanya, tetapi jawaban tak datang.
Pemerintah memeriksa, tetapi akar masalah tak disentuh.

Mafia BBM tidak akan berhenti hanya karena pejabat meninjau lokasi.
Mafia bergerak dengan pola yang sangat rapi, memanfaatkan celah regulasi dan minimnya pengawasan.

Dari temuan lapangan, analisis media, dan keterangan warga, pola mafia BBM di Tempilang dapat digambarkan sebagai berikut:

Tahap 1: BBM Masuk SPBU Tempilang

Suplai resmi dari Pertamina sebenarnya normal. Tidak ada gangguan distribusi.

Tahap 2: Pengerit Masuk dengan Tangki Modifikasi

Mereka membeli BBM bersubsidi berkali-kali, melampaui jatah normal.

Tahap 3: Barcode Dipinjam atau Dipakai Oknum

Kendaraan warga dititipkan barcode-nya agar bisa mengambil BBM lebih banyak.

Tahap 4: Pegawai SPBU Diduga “Membantu”

BBM diarahkan sebagian kepada pengerit.
Warga tak mendapat jatah, antrean mengular, suplai seakan-akan habis.

Tahap 5: BBM Dijual ke Pengepul / Pertamini

Di sinilah harga berubah:
Rp15.000/liter bahkan ada laporan mencapai Rp17.000.

Tahap 6: Warga Dipaksa Membeli

BBM “siluman” itu kembali ke masyarakat, tetapi melalui jalur gelap, dengan harga mencekik.

Pola ini membentuk ekosistem jahat:

Semakin langka BBM, semakin mahal harga jual.

Semakin mahal harga jual, semakin besar keuntungan jaringan.

Semakin besar keuntungan jaringan, semakin kuat pengaruh mafia.

Itulah lingkaran setan Tempilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!