Bangka BaratLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPenambangan

Negara Kalah di Air Kadur: Lima Ekskavator Menggali Luka Belo Laut dan Dugaan Tambang Ilegal yang Tetap Hidup di Depan Mata Hukum

111
×

Negara Kalah di Air Kadur: Lima Ekskavator Menggali Luka Belo Laut dan Dugaan Tambang Ilegal yang Tetap Hidup di Depan Mata Hukum

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Tim Investigasi

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pagi di Air Kadur, Desa Belo Laut, tidak lagi dimulai dengan suara angin laut atau burung-burung rawa. Yang terdengar justru dentuman rantai besi ekskavator, deru mesin alat berat dan suara tanah yang runtuh sedikit demi sedikit ke dasar lubang tambang.

Lima ekskavator berdiri seperti monumen kekuasaan baru di tepian jembatan Belo Laut. Moncong besinya menusuk bumi tanpa ragu, mengoyak lapisan tanah merah yang selama puluhan tahun menopang kawasan itu. Debu beterbangan. Lumpur mengalir menuju aliran air kecil di sekitar lokasi. Sementara truk-truk keluar masuk membawa hasil bumi yang dikeruk dari perut tanah Bangka.

Di tengah semua itu, hukum seperti hanya menjadi papan nama yang dipasang jauh di luar lokasi.

Sebab aktivitas yang diduga ilegal itu tetap berlangsung terbuka, meski kawasan tersebut disebut berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk dan Surat Perintah Kerja (SPK)-nya dikabarkan telah diputus.

Yang tersisa kini hanyalah pertanyaan paling telanjang tentang siapa sebenarnya yang sedang berkuasa di Air Kadur?

Negara atau cukong?

Investigasi tim redaksi pada Senin (24/5/2026) menemukan sedikitnya lima unit alat berat masih aktif bekerja di kawasan tersebut. Tidak ada tanda-tanda penghentian aktivitas. Tidak ada garis penyegelan. Tidak ada rasa takut.

Padahal, lokasi itu sejak lama dikenal masyarakat sebagai kawasan rawan longsor dan memiliki riwayat kecelakaan tambang.

“Dulu orang takut masuk ke situ kalau hujan deras. Tanahnya labil. Sudah sering dengar cerita orang tertimbun. Makanya warga heran ketika alat berat malah makin banyak masuk,” ujar seorang warga Belo Laut kepada redaksi.

Ia berbicara pelan. Berkali-kali menoleh ke sekitar sebelum melanjutkan kalimatnya. Di desa-desa tambang Bangka, rasa takut sering bukan datang dari lubang tambang, melainkan dari orang-orang yang diduga berdiri di belakangnya.

Air Kadur kini tampak seperti lanskap yang kehilangan martabat ekologisnya. Tebing tanah dipangkas perlahan. Vegetasi mulai hilang di beberapa titik. Air yang sebelumnya jernih berubah keruh kecoklatan.

Ketika hujan turun, lumpur disebut mengalir hingga mendekati badan jalan dan kawasan sekitar jembatan.

Namun di tengah ancaman kerusakan itu, alat berat tetap bekerja siang dan malam.

Nama-nama tertentu mulai disebut masyarakat sebagai pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas tersebut. Inisial Ajag, Sain dan Hen beredar dari mulut ke mulut warga. Mereka diduga berkaitan dengan operasional alat berat maupun aktivitas penambangan di lokasi.

Redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi terhadap pihak-pihak yang namanya disebut warga.

Sementara itu, sumber redaksi menyebut aparat penegak hukum sebenarnya telah mengetahui aktivitas tersebut. Pihak Polres Bangka Barat disebut sempat turun ke lokasi. Satgas Trisakti juga dilaporkan pernah datang memberikan peringatan penghentian aktivitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!