BangkaLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPemerintahan

Muara Jelitik Sungailiat dan Logika yang Terbalik: Mengapa Sedimentasi Dikeluhkan, Sumbernya Dipertahankan?

×

Muara Jelitik Sungailiat dan Logika yang Terbalik: Mengapa Sedimentasi Dikeluhkan, Sumbernya Dipertahankan?

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Reza dan Satrio

BANGKA, Berita5.co.id — Muara Air Kantung di Sungailiat kembali menjadi ruang perdebatan yang tidak hanya berbicara tentang kapal nelayan yang kandas atau kebutuhan pengerukan alur pelayaran. Di balik persoalan yang tampak teknis itu, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar tentang mengapa pendangkalan terus dikeluhkan, tetapi faktor-faktor yang diduga berkontribusi terhadap sedimentasi justru tidak selalu menjadi fokus utama penyelesaian?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka versi Lukman pada Kamis (11/6/2026).

Dalam forum itu, Ketua HNSI Kabupaten Bangka, Lukman, menyatakan dukungannya terhadap aktivitas Ponton Isap Produksi (PIP) mitra PT Timah yang beroperasi di sekitar kawasan Muara Air Kantung.

Pernyataan itu segera memunculkan dua reaksi yang berbeda.

Sebagian pihak melihat aktivitas tambang sebagai bagian dari denyut ekonomi masyarakat pesisir. Namun sebagian lainnya mempertanyakan bagaimana sebuah organisasi yang mengatasnamakan kepentingan nelayan memandang hubungan antara aktivitas pengerukan material dasar laut dengan persoalan sedimentasi yang selama ini menjadi keluhan utama para pengguna muara.

“Kita tidak bisa melihat persoalan ini dari satu sisi saja. Aktivitas tambang yang berjalan selama ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Banyak nelayan yang keluarganya bergantung pada aktivitas tersebut. Karena itu yang diperlukan adalah pengaturan yang baik, bukan saling menyalahkan,” kata Lukman.

Pernyataan tersebut sesungguhnya membuka perdebatan yang lebih luas mengenai cara pandang terhadap persoalan Muara Jelitik.

Sebab selama bertahun-tahun, nelayan mengeluhkan alur pelayaran yang semakin dangkal. Kapal-kapal harus menunggu pasang. Sebagian kandas saat surut. Waktu melaut menjadi lebih panjang. Biaya operasional meningkat.

Namun di tengah berbagai keluhan itu, diskusi mengenai penyebab sedimentasi sering kali tenggelam oleh tarik-menarik kepentingan yang berkembang di sekitar muara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!