Bangka BaratBudayaEdukasiKulinerLokalNewsPemerintahan

Membaca Masa Depan dari Halaman Sekolah: SDN 10 Mentok Mengajarkan Bahwa Pendidikan Bukan Sekadar Nilai Rapor

48
×

Membaca Masa Depan dari Halaman Sekolah: SDN 10 Mentok Mengajarkan Bahwa Pendidikan Bukan Sekadar Nilai Rapor

Sebarkan artikel ini

Oleh: Suryan Masrin dan Belva Al Akhab

BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Pagi baru saja merekah di Kota Mentok ketika suara tawa anak-anak mulai memenuhi halaman SD Negeri 10 Mentok, Rabu, 10 Juni 2026.

Mereka berlarian kecil sebelum berbaris rapi di lapangan sekolah. Sebagian masih bercanda dengan teman-temannya. Sebagian lagi tampak penasaran melihat deretan foto-foto lama yang dipajang di sudut halaman sekolah.

Di bawah langit biru yang bersih, ratusan siswa kemudian bergerak mengikuti irama Senam Gemari (Gerakan Gemar Makan Ika).

Musik terdengar riang.

Anak-anak mengangkat tangan, melompat, tertawa dan sesekali saling menatap dengan wajah penuh kegembiraan.

Bagi orang yang melintas di depan sekolah itu pagi itu, pemandangan tersebut mungkin terlihat seperti kegiatan biasa.

Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang berlangsung.

Di sana, sebuah sekolah dasar sedang berusaha menjawab pertanyaan paling mendasar dalam dunia pendidikan:

Untuk apa sebenarnya anak-anak belajar?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi di tengah zaman yang semakin sibuk mengejar angka, peringkat dan prestasi akademik, jawaban atas pertanyaan tersebut justru menjadi semakin penting.

SD Negeri 10 Mentok mencoba menjawabnya melalui cara yang tidak biasa.

Mereka mempertemukan literasi dengan sejarah.

Menyandingkan pendidikan dengan kesehatan.

Menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Semuanya dikemas dalam sebuah kegiatan bernama Gebyar Literasi Gemini (GLG) bertema “Gerakan Makan Ikan Sejak Dini”.

Selama bertahun-tahun, literasi sering dipahami secara sempit.

Anak dianggap literat ketika mampu membaca.

Sekolah dianggap berhasil ketika nilai siswanya tinggi.

Padahal kehidupan menuntut lebih dari itu.

Anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca buku.

Mereka juga perlu mampu membaca keadaan.

Membaca perubahan zaman.

Membaca sejarah.

Membaca lingkungan tempat mereka tumbuh.

Dan yang paling penting, membaca dirinya sendiri.

Kesadaran itulah yang tampaknya ingin dibangun SD Negeri 10 Mentok.

Kepala sekolah, Wanda Setiawan, berdiri di tengah kerumunan siswa sambil sesekali memperhatikan jalannya acara.

Di wajahnya terlihat kepuasan melihat anak-anak begitu menikmati setiap rangkaian kegiatan.

Baginya, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu dari guru kepada murid.

Pendidikan sebagai proses membentuk manusia.

“Anak-anak harus tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, sehat secara fisik dan kuat secara karakter. Karena itu kami mengintegrasikan budaya membaca dengan edukasi gizi melalui gerakan gemar makan ikan. Literasi dan kesehatan adalah fondasi utama dalam menciptakan generasi unggul,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar normatif.

Namun jika diperhatikan lebih jauh, tersimpan gagasan besar di dalamnya.

Bahwa kecerdasan tanpa kesehatan akan pincang.

Bahwa pengetahuan tanpa karakter akan kehilangan arah.

Bahwa pendidikan yang baik harus mampu menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia.

Ketika sesi penampilan siswa dimulai, satu per satu anak naik ke panggung sederhana yang telah disiapkan.

Ada yang membacakan puisi.

Ada yang menyampaikan kampanye kreatif tentang manfaat makan ikan.

Ada yang tampil dengan suara bergetar karena gugup.

Namun tidak ada yang menertawakan.

Setiap penampilan disambut tepuk tangan.

Setiap keberanian diapresiasi.

Di sinilah pendidikan bekerja dalam bentuk yang paling manusiawi.

Bukan melalui ujian.

Bukan melalui angka.

Melainkan melalui rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.

Fikri, siswa kelas VI, menjadi salah satu yang merasakan pengalaman tersebut.

Sebelum naik ke panggung, telapak tangannya berkeringat.

Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

“Tadi saya takut salah saat membaca puisi. Tapi setelah selesai dan teman-teman tepuk tangan, saya jadi senang. Saya ingin berani tampil lagi kalau ada acara seperti ini,” katanya.

Bagi orang dewasa, itu mungkin hanya sebuah pembacaan puisi.

Namun bagi seorang anak berusia dua belas tahun, berdiri di depan ratusan pasang mata adalah pelajaran keberanian yang mungkin akan dikenangnya sepanjang hidup.

Di salah satu sudut halaman sekolah, kerumunan siswa terlihat mengelilingi deretan foto berwarna hitam putih.

Inilah bagian yang paling menyita perhatian banyak peserta hari itu.

Pameran foto sejarah bertajuk “Bercerita Kisah dan Jejak Bangka”.

Puluhan foto lawas dipajang dengan rapi.

Ada foto sekolah zaman dahulu.

Ada gambar kehidupan masyarakat pesisir.

Ada dokumentasi aktivitas tambang rakyat.

Ada wajah-wajah Bangka dari masa ketika telepon pintar bahkan belum pernah dibayangkan.

Anak-anak memandangi foto-foto itu dengan rasa ingin tahu yang besar.

Mereka menunjuk.

Mereka bertanya.

Mereka berimajinasi.

Mereka mencoba memahami dunia yang berbeda dari dunia yang mereka kenal hari ini.

Ketua panitia kegiatan, Donni, mengatakan bahwa pameran tersebut sengaja dihadirkan untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda.

“Anak-anak perlu mengenal daerahnya sendiri. Mereka harus tahu bagaimana Bangka berkembang, bagaimana masyarakatnya hidup dan bagaimana perjuangan generasi sebelumnya membangun daerah ini,” ujarnya.

Di hadapan foto-foto lama itu, sejarah kehilangan kesan kaku yang selama ini melekat pada buku pelajaran.

Sejarah berubah menjadi cerita.

Menjadi pengalaman.

Menjadi percakapan.

Rafa, siswa kelas V, berdiri cukup lama di depan salah satu foto sekolah tua.

“Saya baru tahu kalau dulu sekolah dan kehidupan masyarakat Bangka berbeda sekali dengan sekarang. Ada foto-foto lama yang membuat saya penasaran. Rasanya seperti melihat cerita masa lalu yang hidup kembali,” katanya.

Bagi Rafa, foto itu mungkin hanya gambar.

Tetapi bagi dunia pendidikan, rasa penasaran yang muncul dari dalam diri seorang anak sebagai pintu masuk menuju pengetahuan.

Tidak ada pembelajaran yang lebih kuat daripada rasa ingin tahu yang tumbuh secara alami.

Yang menarik, bukan hanya siswa yang belajar hari itu.

Para orang tua juga ikut menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Di sela-sela pameran, beberapa anak menggandeng tangan ayah dan ibunya.

Mereka menunjukkan foto-foto yang menarik perhatian.

Mereka bertanya tentang sejarah.

Mereka meminta penjelasan.

Mereka membuka percakapan.

Momen sederhana itu menghadirkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan di era digital tentang dialog antargenerasi.

Rina, salah satu wali murid, mengaku tersentuh melihat konsep kegiatan tersebut.

“Anak-anak tidak hanya diajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga dikenalkan dengan sejarah daerahnya sendiri. Melalui kegiatan ini mereka belajar dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.

Sementara Yanto, orang tua siswa lainnya, melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk pendidikan yang utuh.

“Saya bangga melihat anak-anak tampil percaya diri. Mereka belajar berbicara, menghargai budaya dan belajar hidup sehat. Menurut saya inilah pendidikan yang lengkap,” katanya.

Di tengah berbagai perdebatan tentang kualitas pendidikan nasional, pemandangan sederhana di SD Negeri 10 Mentok pagi itu menawarkan sebuah pelajaran penting.

Bahwa pendidikan terbaik sering kali lahir dari hubungan yang hangat antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.

Menjelang siang, aroma ikan goreng, pempek, dan berbagai olahan hasil laut mulai menyebar ke seluruh area sekolah.

Anak-anak berkumpul kembali.

Mereka duduk bersama.

Makan bersama.

Bercerita bersama.

Tidak ada jarak.

Tidak ada sekat.

Kampanye gemar makan ikan yang sejak pagi digaungkan akhirnya diwujudkan dalam pengalaman nyata.

Anak-anak belajar bahwa makanan sehat bukan sekadar teori yang tertulis di buku pelajaran.

Melainkan kebutuhan yang menentukan masa depan mereka.

Sulastri, salah satu wali murid, tersenyum melihat anak-anak menikmati hidangan tersebut.

“Kami sering menyuruh anak makan ikan di rumah, tetapi kadang sulit. Ketika sekolah ikut mengkampanyekan pentingnya makan ikan seperti ini, pesannya jadi lebih mudah diterima anak-anak,” katanya.

Di meja-meja sederhana itu, pendidikan kembali menunjukkan bentuk terbaiknya.

Ia hadir bukan sebagai perintah.

Bukan sebagai kewajiban.

Melainkan sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Ketika acara berakhir, anak-anak kembali ke kelas dengan membawa lebih dari sekadar kenangan.

Mereka membawa cerita.

Membawa pengalaman.

Membawa pemahaman baru tentang kesehatan, sejarah, budaya, dan diri mereka sendiri.

Mungkin bertahun-tahun dari sekarang mereka akan melupakan menu ikan yang disantap hari itu.

Mereka mungkin tidak lagi mengingat lagu yang diputar saat senam pagi.

Namun ada kemungkinan besar mereka akan mengingat bagaimana sekolah pernah membuat mereka bangga terhadap Bangka.

Membuat mereka berani tampil.

Membuat mereka ingin membaca lebih banyak.

Membuat mereka bertanya tentang sejarah.

Membuat mereka memahami bahwa belajar bagian dari kehidupan.

Dan mungkin itulah makna pendidikan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar mencetak anak-anak yang pandai menjawab soal ujian.

Melainkan menumbuhkan manusia yang sehat, berkarakter, mencintai budayanya, memahami sejarahnya, dan memiliki keberanian untuk membangun masa depan.

Di halaman SD Negeri 10 Mentok pada pagi yang cerah itu, masa depan tidak sedang diajarkan.

Masa depan sedang ditumbuhkan. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!