Bangka BaratLaw&CrimeLokalNewsPenambangan

Laut Tanjung Ular Membara, Tambang Timah Ilegal Mengusir Rakyat Pesisir Dari Ruang Hidupnya

135
×

Laut Tanjung Ular Membara, Tambang Timah Ilegal Mengusir Rakyat Pesisir Dari Ruang Hidupnya

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Laut Tanjung Ular perlahan berubah menjadi medan luka bagi nelayan kecil.

Di perairan yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir Desa Air Putih, kini berdiri puluhan ponton tambang timah ilegal yang bekerja nyaris tanpa henti. Siang dan malam, mesin-mesin diesel meraung di tengah laut, mengoyak ketenangan kampung nelayan dan merampas ruang tangkap yang selama ini menjadi tempat rakyat kecil menggantungkan hidup.

Minggu dini hari (17/05/2026), cahaya lampu ponton terlihat menyala terang di tengah laut seperti kota besi terapung. Dari kejauhan, suara mesin terdengar kasar, memecah sunyi malam dan menenggelamkan suara ombak yang dahulu akrab di telinga nelayan.

Bagi nelayan tradisional, pemandangan itu bukan lagi sekadar aktivitas tambang liar.

Itu sebagai simbol bagaimana laut mereka sedang direbut perlahan-lahan.

“Kalau ponton sudah masuk, habislah kami. Jaring rusak, puket kena, ikan lari semua,” ujar seorang nelayan Desa Air Putih dengan nada kecewa.

Di wajahnya tergambar kelelahan panjang.

Kulit legam terbakar matahari dan tangan penuh luka menjadi saksi kerasnya hidup di laut. Namun kini, bahkan laut yang selama ini mereka jaga tak lagi mampu memberi kepastian hidup.

Sejumlah nelayan mengaku aktivitas tambang ilegal di kawasan Tanjung Ular semakin brutal dalam beberapa hari terakhir. Ponton-ponton disebut bekerja hampir sepanjang waktu tanpa memedulikan keberadaan nelayan tradisional.

“Sudah seminggu lebih mereka kerja terus. Malam juga tetap hidup,” ujar warga pesisir.

Belasan ponton tambang disebut beroperasi di wilayah tangkap nelayan. Sebagian besar diduga merupakan tambang inkonvensional milik masyarakat kampung yang masuk ke area laut produktif.

Namun bagi nelayan kecil, persoalannya bukan sekadar soal tambang ilegal.

Mereka merasa sedang dipaksa tersingkir dari lautnya sendiri.

“Dulu kami masih bisa cari makan tenang. Sekarang laut penuh ponton,” kata seorang nelayan tua.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenyataan pahit yang sedang dialami masyarakat pesisir Bangka Barat.

Laut yang dahulu menjadi harapan kini berubah menjadi ancaman.

Pada malam hari, nelayan pengguna metode merawai atau pancing laut menjadi kelompok yang paling merasakan dampak aktivitas tambang ilegal.

Mereka mengaku kesulitan memasang alat tangkap akibat lalu-lalang speedboat pengangkut hasil tambang. Tidak sedikit alat tangkap rusak akibat tersangkut aktivitas ponton.

“Kadang kami takut melaut malam. Speedboat lewat terus,” ujar nelayan lainnya.

Di beberapa titik perairan, air laut mulai terlihat keruh akibat aktivitas penyedotan pasir timah dari dasar laut. Nelayan percaya kerusakan itu membuat habitat ikan hancur dan hasil tangkapan terus menurun.

“Tempat ikan rusak semua. Mau cari makan jadi makin susah,” keluh seorang nelayan sambil memperbaiki jaring koyak.

Bagi masyarakat pesisir, kerusakan laut bukan sekadar persoalan lingkungan.

Kerusakan laut berarti dapur keluarga terancam kosong.

Anak-anak nelayan terancam putus sekolah.

Masyarakat kecil semakin terdesak oleh kepentingan ekonomi yang lebih besar.

Di tengah keresahan masyarakat, muncul dugaan kuat bahwa aktivitas tambang ilegal di Tanjung Ular merupakan perpindahan dari wilayah Keranggan–Tembelok yang sebelumnya sempat ditertibkan aparat.

“Indikasinya pindah ke sini setelah di sana ditindak,” ujar sumber warga pesisir.

Surat aspirasi nelayan menyatakan menolak aktivitas tambang ilegal di tanda tangani oleh Kades Air Putih

Sebelumnya, aparat kepolisian diketahui melakukan operasi penertiban terhadap tambang selam ilegal di kawasan Keranggan dan Tembelok. Dalam pemberitaan media nasional, aparat disebut mengamankan 19 pekerja beserta enam unit ponton tambang ilegal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!