Penulis: Rudy
MENTOK, Berita5.co.id — Pagi di Pasar Mentok seharusnya identik dengan hiruk-pikuk transaksi, potongan daging segar, dan tawar-menawar khas pasar rakyat.
Namun kenyataan berkata lain. Di antara lapak daging sapi, aroma busuk justru lebih dulu menyambut pembeli
Bau menyengat yang berasal dari kontainer sampah terbuka, diletakkan hanya selemparan tangan dari daging segar yang akan dibawa pulang ke dapur warga.
Bau itu bukan cerita sehari dua hari. Ia telah menjadi “penghuni lama” Pasar Mentok, Kabupaten Bangka Barat.
Kontainer sampah portable yang dibiarkan terbuka, penuh, dan tak terurus, berdiri angkuh di ruang publik, seolah menegaskan satu hal bahwa persoalan kecil rakyat sering kali terlalu remeh untuk segera ditangani.
Bagi pembeli, bau itu mengganggu kenyamanan. Bagi pedagang, ia menjadi ancaman langsung terhadap kepercayaan konsumen.
Daging segar, yang seharusnya dijaga higienitasnya, kini harus berbagi udara dengan sampah membusuk, lalat, dan cairan sisa yang menggenang.
“Ini daging, Pak. Bukan rongsokan,” ujar seorang pedagang dengan nada kesal.
Ia mengaku sudah lama mengeluhkan kondisi tersebut, namun tak pernah benar-benar didengar.
Masalahnya tak berhenti di situ. Saat matahari terbenam, lapak daging Pasar Mentok berubah menjadi ruang remang-remang.
Lampu penerangan tak tersedia. Padahal persiapan dagangan kerap dilakukan malam hingga dini hari.
Ironisnya, para pedagang tetap membayar retribusi rutin, patuh, tanpa absen.












