Oleh: Bangdoi Ahada
OPINI, Berita5.co.id — Jika beberapa tahun lalu Bangka Belitung dikenal karena keindahan pantai dan keramahan Melayu, kini ada satu tren baru yang mulai mengkhawatirkan di akhit tahun 2025 ini.
Kini Babel sedang demam lapor-lapor.
Sedikit tersinggung, lapor.
Sedikit salah paham, lapor.
Pemimpin lapor rakyat, rakyat lapor pemimpin—semuanya menuju pintu yang sama, yakni Markas Besar Polda Bangka Belitung.
Fenomena ini seperti alarm keras bahwa hubungan sosial kita sedang tidak baik-baik saja.
Ada jarak yang melebar, ada kepercayaan yang retak, ada rasa sayang yang menguap entah ke mana.
Padahal, keharmonisan pemimpin dan masyarakat adalah pondasi paling dasar untuk membangun daerah kecil sekaligus strategis seperti Bangka Belitung ini.
Babel bukan kota industri yang serba dingin. Babel adalah negeri Melayu—negeri yang menjunjung kata sepakat.
Dulu, masalah keluarga besar, masalah kampung, masalah adat, semua diselesaikan di balai pertemuan, bukan lewat surat laporan.
Sekarang?
Warga kesal dengan pemimpin, lapor.
Pemimpin tersinggung oleh warga, lapor.
Padahal, apakah benar tiap masalah harus dibawa ke meja penyidik?
Tidak semua persoalan perlu stempel hukum. Ada hal-hal yang bisa—bahkan lebih baik—diselesaikan lewat dialog.
Musyawarah itu bukan budaya kuno. Itu budaya yang sudah terbukti menyelamatkan banyak hubungan, lingkungan, dan komunitas.
Energi Politik Kita Makin Terkuras
Mari jujur sebentar, siapa sebenarnya yang diuntungkan dari tren saling melaporkan ini?
Pemimpin jadi bekerja dengan was-was.
Rakyat hidup dengan rasa curiga.
Pembangunan berjalan tersendat, karena atmosfer sosialnya penuh awan gelap.












